2000 jiwa mengungsi akibat Banjir Bandung Selatan, Pemerintah Pusat harus turun tangan


Bandung, BuletinInfo – Pemerintah Pusat diminta turun tangan untuk mengatasi banjir bandung selatan. Sebagian besar korban banjir Bandung Selatan masih bertahan di tempat pengungsian. Dari hampir 2.000 jiwa pengungsi pada Rabu lalu, sampai Jumat siang, 10 Maret 2017 ini sebanyak 1.550 orang belum bisa kembali ke rumahnya karena banjir masih merendam.

Ketinggian genangan bervariasi dari 10 hingga 150 sentimeter. “Akses jalan raya di daerah banjir sudah mulai terbuka,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung, Tata Irawan, Jumat, 10 Maret 2017.

Ketinggian genangan sejak Kamis umumnya mulai turun. Namun banjir masih merendam warga di tiga kecamatan yaitu Baleendah, Dayeuh Kolot, dan Bojongsoang. BPBD mencatat, di antara pengungsi terdapat 171 orang lanjut usia, 180 anak balita, 9 ibu hamil, 34 orang ibu menyusui, dan 8 orang yang sakit. “Sebagian pengungsi memilih pulang untuk membersihkan rumah,” kata Tata. Air banjir yang surut menyisakan sampah dan lumpur.

Pengungsi terbanyak dari Kecamatan Baleendah dengan 897 jiwa. Pengungsi tersebar di 18 dari 22 tempat sejak Rabu lalu. Instansi pemerintah Kabupaten Bandung menangani para pengungsi banjir tahunan tersebut.
Bupati Bandung Dadang Mochamad Nasser mengatakan, berbagai upaya untuk menuntaskan persoalan banjir telah dilakukan oleh Pemkab Bandung. Untuk 2017 ini, Pemkab Bandung mengalokasikan dana hingga Rp 100 miliar yang disebar ke berbagai instansi, seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan Dinas Pemukiman dan Pertanahan (Perkimtan). “Berbagai anggaran ini dialokasikan untuk penataan drainase, pelebaran saluran air hingga penghijauan,” katanya lewat wawancara tertulis, Jumat, 10 Maret 2017.

Pada akhir Desember 2016 lalu, Pemkab Bandung bersama-sama dengan para aktivis lingkungan yang tergabung dalam Konsorsium Sabilulungan (Korsa) telah menanam lebih dari 60 ribu pohon dalam program Restorasi Kawasan Hulu Sungai Citarum, tepatnya di Kecamatan Kertasari. Selain menanam pohon, Korsa bersama masyarakat yang ada di Kecamatan Kertasari melakukan perawatan supaya pohon-pohon yang ditanam itu tumbuh dan menjadi penahan laju air sekaligus penyerap air.

(HA)

Previous Pemerintah Masih Mengakaji RUU Tembakau Sehingga Nantinya Berdampak Positif Bagi Semua Pihak
Next Perdamaian Pengemudi Ojek Online dan Supir Angkot di Kota Tanggerang menjadi cerminan Damai itu Indah