Angkutan Konvensional Dan Online Di Banyak Daerah Sepakat Damai


Pertikaian antara pengemudi angkutan kota (angkot) dan angkutan online terjadi dibeberapa kota.

Hal itu langsung direspon cepat oleh pemerintah yang berusaha untuk mendamaikan kedua belah pihak dan mencari solusi untuk mengatasi kisruh angkutan konvensional vs angkutan online.

Di Tanggerang contohnya, melalui Kepolisian, TNI, dan Pemerintah Kota Tangerang hingga Kamis (9/3) dini hari, pemerintah melakukan mediasi sehingga ditandatangani dua buah kesepakatan.

Poin pertama kesepakatan bersama itu, yakni masing-masing pihak menyadari bahwa kejadian tersebut adalah kesalahpahaman dan dinyatakan selesai secara kekeluargaan dan saling memaafkan serta tidak ada kejadian serupa di kemudian hari.

Poin kedua yakni masing-masing pihak juga menyatakan akan menjaga keamanan bersama di wilayah Kota Tangerang, tidak main hakim sendiri, dan apabila terdapat anggota kedua belah pihak yang melakukan pelanggaran hukum, siap bertanggung jawab serta bersedia dilakukan proses hukum sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku (kepolisian).

Bahkan pada Sabtu (11/3), Konvoi simpatik ribuan pengemudi online dan angkot se-Tangerang Raya dilakukan dan diakhiri goyang bersama yang diiringi lantunan musik dangdut, di jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Tangerang.
Sebelumnya, mereka berkonvoi keliling Kota Tangerang. Rute dimulai dari Mapolres Metro Tangerang, di jalan Raya Daan Mogot, berputar ke jalan Otista Raya, dan berakhir di Jalan Perintis Kemerdekaan dekat kampus Universitas Muhammadiyah Tangerang.

“Kita berjanji tidak akan ada lagi cekcok. Yang kemarin-kemarin biar diselesaikan pihak berwajib. Dan kita sepakat menjadikan Kota Tangerang aman dan nyaman bagi semua,” kata Fery Budhi, Ketua Gograbber Tangerang Raya.

Sementara di Malang, pertikaian berhasil dipadamkan dengan disepakatinya kesepakatan yang menyatakan bahwa angkutan berbasis aplikasi online tetap diperbolehkan beroperasi di Kota Malang dan sekitarnya. Namun, mobilitas dalam mengangkut dan menurunkan penumpang dibatasi di zona tertentu.

“Angkutan berbasis online dilarang beroperasi di mal, perhotelan, tempat hiburan, stasiun, terminal, rumah sakit, pasar, dan jalan yang dilalui angkutan kota,” tegas Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang Kusnadi. Kesepakatan itu dicapai setelah pada hari ini seluruh perwakilan Pemkot Malang, Organda, dan Paguyuban Transportasi Online Malang (TOM) berembuk untuk mencari jalan tengah.

Kesepakatan itu dicapai setelah pada hari ini seluruh perwakilan Pemkot Malang, Organda, dan Paguyuban Transportasi Online Malang (TOM) berembuk untuk mencari jalan tengah.

“Paguyuban TOM diimbau agar segera menyosialisasikan kesepakatan ini kepada seluruh anggotanya,” jelas Kusnadi.

Jika dilanggar, dia mengatakan bahwa pihaknya dan kepolisian akan menindak tegas pelanggaran tersebut. Sementara itu, dia juga menghimbau agar pengemudi angkutan konvensional yakni taksi dan angkot juga diminta tidak melakukan intimidasi kepada angkutan online.

Previous Pemerintah Pusat Dan Daerah Terus Cari Solusi Atasi Banjir Di Bandung
Next Kekasih Gelap Sandiaga Uno, Dini Indra terkenal sebagai Pemburu Tas Bermerk