BPS: Naiknya Impor Konsumsi Biasanya Dipenuhi Sebagai Antisipasi Liburan Akhir Tahun


Jakarta, BuletinInfo.com – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengakui adanya peningkatan impor konsumsi yang terjadi pada beberapa produk, antara lain creamy butter (mentega) dan jeruk mandarin. “Impor konsumsi tumbuh, terutama pada creamy butter dan fress mandarin jenis jeruk,” kata Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (15/11/2017).

BPS mencatat bahwa pada Oktober 2017 impor jeruk mandarin dari China mengalami kenaikan hingga 147,5% atau tembus US$9,9 juta dibanding September 2017 yang baru sekitar US$4 juta. Sementara jika dibanding periode sama tahun lalu, impor jeruk mandarin China ke Indonesia baru sekitar US$7,8 juta. Secara kumulatif, pasokan jeruk mandarin impor pun mengalami kenaikan.

Data BPS memperlihatkan bahwa secara kumulatif, impor jeruk mandarin pada Januari-Oktober 2017 sebesar US$85,6 juta mengalami kenaikan sebesar 67,19 persen atau sekitar US$34,4 juta dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang adalah US$51,2 juta dollar AS.

Kenaikan impor konsumsi juga, kata Suhariyanto biasanya dipenuhi sebagai antisipasi liburan akhir tahun, mulai dari natal sampai tahun baru. “Kita tentu berharap konsumsi rumah tangga di triwulan IV itu bisa naik. Karena kembali ada Desember. Biasanya kalau ada liburan panjang itu konsumsi makanan dan minuman akan meningkat, transportasi meningkat, liburan meningkat. Ini masalah waktu saja,” timpal dia.

Meski demikian, Suhariyanto mengaku tidak suka dengan adanya peningkatan impor konsumsi. Sebab, hal itu menandakan bahwa Indonesia akan mengkonsumsi produk atau barang dari negara lain, yang kemungkinan bisa diproduksi atau dipenuhi oleh dalam negeri.

Jika dilihat sampai akhir tahun, dipastikan akan terus adanya peningkatan impor konsumsi untuk sektor makanan dan minuman. Namun, menurut Suhariyanto, hal tersebut biasanya telah diantisipasi oleh pengusaha dengan melakukan impor bahan baku/penolong.

Kepala Subdirektorat Impor BPS Rina Dwi Sulastri mengatakan, pihaknya memandang peningkatan impor jeruk dari China disebabkan masa panen besar di Negeri Tirai Bambu tersebut. Sehingga, pasokan melimpah dan diekspor ke sejumlah negara termasuk Indonesia. “Di China panen besar, jadinya dikirim ke kita (Indonesia),” imbuhnya.

Sementara itu untuk mentega (creamy buttery), data BPS menunjukkan bahwa Indonesia mengimpor hingga USD17,4 juta atau naik 200% dibanding September 2017 yang sebesar USD5,8 juta. Posisi per Oktober 2016, nilai impor butter US$ 4,5 juta. Adapun mentega impor yang masuk ke Indonesia berasal dari Selandia Baru. Sepanjang Januari-Oktober 2017, nilai impor creamy butter dari Selandia Baru men‎ingkat signifikan 57,71 persen menjadi US$ 67,5 juta dibanding realisasi periode sama tahun lalu senilai US$ 42,8 juta.

Sebenarnya, dengan adanya peningkatan konsumsi rumah tangga untuk penggunaan produk dalam negeri akan memberikan dampak positif pada perputaran ekonomi bangsa serta mendorong pertumbuhan usaha dalam negeri.

Dengan membeli dan menggunakan produk lokal akan meningkatkan pendapatan petani dan pengusaha lokal bahkan pendapatan nasional. Diharapkan pula dengan keuntungan tersebut pelaku usaha akan terus meningkatkan mutu produk-produknya sebagai timbal balik dari kepercayaan publik dalam negeri.

Selain itu, permintaan produk lokal yang tinggi menuntut peningkatan jumlah produksi yang juga akan membuka lapangan pekerjaan baru bagi jutaan rakyat Indonesia.

Cinta Produk Dalam Negeri.

Previous Seorang siswi SMA ditemukan babak belur setelah dianiaya dan diperkosa oleh pria muda yang belum diketahui identitasnya, Jika anda mengenal segera laporkan!!!
Next Jokowi Akan Siapkan Kebijakan Strategis Hadapi Dampak Revolusi Industri Keempat