Ceramah Gus Nuril Yang Berupaya Tumbuhkan Toleransi Umat Bergama


Gus Nuril Arifin merupakan salah satu Kyai Besar PBNU yang selalu berupaya membangun hubungan harmonis antara umat beragama.

Salah satu cara dia membangun hubungan harmonis antar umat beragama adalah dengan memberikan ceramah di Gereja Bethani Tayu, Pati, Jawa Tengah, dalam acara Natal Kebangsaan.

Ceramah ini sebetulnya dilakukan sudah semenjak 2013 lalu, yang bertujuan agar membangun toleransi antar umat beragama.

Dalam kesempatan ini, Gus Nuril juga sempat mengatakan agar umat Nasrani agar tidak takut dalam menyelenggarakan natal, karena Banser NU akan menjaga gereja-gereja pada hari Natal.

Tindakan toleransi seperti itu, sebetulnya memang sudah banyak terjadi di banyak negara, di mana ketika umat Islam melaksanakan solat, umat Nasrani menjaganya, sedangkan ketika umat Nasrani ke gereja, umat Islam juga menjaga gerejanya.

Bahkan ketika beberapa saat lalu Presiden AS Donald Trump ingin mendeportasi muslim dari beberapa negara, tindakan itu ditentang dan didemo habis-habisan oleh umat agama lainnya di AS dan negara-negara lain.

Tindakan toleransi beragama seperti itu sebetulnya sudah ada sejak zaman Nabi dulu, di mana umat Islam, Nasrani, dan Yahudi menandatangani piagam Madinah.

Hal itu membuat hubungan antara tiga agama tersebut berjalan sangat harmonis, sehingga mereka dapat menjalankan ibadah agamanya masing-masing tanpa rasa takut sama sekali.
Sikap itulah yang harus ada di masyarakat Indonesia, karena sejatinya masyarakat Indonesia terdiri dari banyak agama dan etnis.

Jika masyarakat Indonesia tidak bertoleransi seperti itu, maka hal itu hanya akan menimbulkan kecurigaan satu sama lainnya dan bahkan perpecahan.

Gus Nuril dalam ceramah tersebut juga menjelaskan bahwa agama Islam di Indonesia terbentuk dari akulturasi antara budaya Islam (Arab) dan Tiongkok. Hal itu memang benar karena sejatinya Indonesia merupakan temoat berkumpunya para pedagang dari Arab dan Tiongkok yang akhirnya membuat adanya percampuran budaya antara keduanya di Indonesia.

Bahkan, ada tokoh Tiongkok muslim yang sangat terkenal yang pernah juga menginjakkan kaki di bumi nusantara yaitu Laksamana Cheng Ho.

Akulturasi budaya tersebut tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan budaya Indonesia. Dengan percampuran budaya tersebutlah bangsa ini menjadi bangsa Indonesia. Sehingga, tidak perlu ada perpecahan antar masyarakat, karena bangsa Indonesia seharusnya melebur menjadi 1, tanpa ada perbedaan.

Previous Presiden Jokowi: Jika dibiarkan Persekusi di tanah air, Indonesia bisa jadi negara barbar #BahayaPersekusi
Next Kyai Besar PBNU Gus Nuril: Indonesia terbentuk dari keberagaman bukan dari salah satu agama maupun suku saja

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *