Dampak Positif Kebijakan Jokowi Pada Sejumlah Sektor Di Indonesia


Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) selama ini telah banyak berhasil melakukan program di sejumlah sektor.

Pada sektor energi, Jokowi meresmikan kembali pembangunan PLTU Batang, Jawa Tengah dengan Kapasitas 2.000.MW yang mangkrak selama empat tahun, serta pembangunan PLTA dengan kapasitas 110 MW di Jawa Barat. PLTU Ketapang dengan daya 20 MW dan PLTG Paguat Pohuwato di Gorontalo dengan daya 100 MW juga telah diresmikan dan beroprasi semenjak tahun 2016.

Program pengaliran listrik tersebut dilakukan diberbagai wilayah yang masih masih kekurangan listrik, seperti Sulawesi Utara dan Gorontalo dibuatkan PLTG Apung yang sudah beroprasi dengan day 120 MW. Bahkan, sebanyak 2.519 Desa di Indonesia Timur akan mendapatkan aliran Listrik di tahun 2016. Sedangkan di Sorong, sebanyak 3.898 rumah telah bisa menikmati Gas Alam untuk memasak. Warga Sungai Mandau, Kabupaten Siak yang selama 71 tahun tidak mempunyai listrik, baru saat ini saja menikmati aliran Listrik.

Saat ini, juga sedang dibangun pembangkit listrik berdaya 350 MW untuk regional Sumatera, PLTMG Arun 184 MW untuk Lhokseumawe, PLTG di Gerung, Lombok Barat dan PLTU Lontar di Kronjo, Banten.

Selain itu, dia juga membubarkan PETRAL yang akhirnya bisa hemat anggaran sebesar Rp 250 miliar/hari dan mencabut subsidi BBM agar dapat digunakan disalurkan di beberapa sektor yang produktif.

Indonesia juga bekerja sama dengan perusahaan Saudi Arabia ARAMCO untuk membangun Kilang Minyak serta Storages BBM di Indonesia senilai Rp 140 triliun. Sejak November 2015, Indonesia juga sudah mengoprasikan RFCC (Residual Fluid Catalytic Cracking) di Cilacap Jateng dan Kilang TPPI di Tuban Jatim yang mengurangi Import BBM Premium sebesar 30% atau hemat Rp 150 miliar/hari atau setara dengan 100 ribu barrel per hari. Komite Explorasi Nasional (KEN) yang dibentuk pemerintah Jokowi pada 12 Juni 2015 telah menemukan cadangan Minyak dan Gas di Indonesia Timur sebesar 5,2 miliar barr untuk Minyak dan sebanyak 2,7 miliar barrel dan untuk Gas14.TCF Gas.

Indonesia juga berhasil menurunkan impor BBM Premium sebesar 37 % dari semula 378,5 ribu BPH turun jadi 236 ribu BPH dan juga impor Solar sebesar 84 % dari semula sejumlah 121,3 ribu BPH turun menjadi 20 ribu BPH.

Bahkan, setelah Indonesia merdeka 71 tahun, baru di era Jokowi warga perbatasan di Krayan Nunukan bisa beli Solar Pertamina dengan subsidi khusus seharga Rp.5.150,- per liter dan warga Kabupaten Puncak Jaya dapat menikmati BBM dengan harga Rp.6.500.per Liter.

Dalam bidang infrastruktur, Jokowi juga membangun pengairan Waduk Jatigede, Sumedang yang berfungsi untuk mengendalikan banjir di Indramayu, pengairan sawah sawah di Jawa Barat. Jokowi juga sudah meresmikan pembuatan jalan toll Trans Sumatera tahap I dari Lampung-Palembang-Indralaya. Pembangunan jalur LRT jurusan Cibubur-Cawang dan Bekasi Timur-Cawang dan pembuatan terowongan guna jalur MRT juga sudah dimulai semenjak tahun 2015.

Selain itu, 6 rute Tol Laut juga sudah dioperasikan guna menunjang sarana transportasi laut. Dilakukan juga pembangunan 15 bandara udara baru di wilayah terluar Indonesia. Jokowi menambah Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta Ultimate International yanh dapat mengangkut penumpang sebanyak 25 juta orang, jauh lebih besar ketimbang Bandara Changi Singapore.

Saat ini, pemerintah juga sedang membuat jalur kereta cepat Makassar-Pare Pare yang akan beroprasi tahun 2019, Jakarta-Bandung di Walini, Bandung Barat, dan Kereta Api Trans Borneo.

Untuk masyarakat miskin, pemerintah juga membuatkan program 1 juta rumah untuk rakyat, yang sudah berhasil dibangun 700 ribu unit pada 2016.

Jokowi juga memberikan dana sebesar Rp 16 triliun untuk pembangunan infrastruktur di perbatasan Kalimantan dari Kalimantan Utara sampai Kalimantan Barat. Untuk wilayah Papua, Jokowi juga membangun pelabuhan laut di Sorong, Manokwari, Jayapura dan Merauke, serta infrastruktur pembuatan jalan yang menghubungkan kota kota di Papua.Pemerintah juga menargetkan pekerjaan Tol Trans Papua dirancang sepanjang 4.320.Km (Sorong-Manokwari-Wamena-Jayapura-Merauke) (Timika-Oksibil) tersambung pada tahun 2018.

Pemerintahan Jokowi juga membuat program membangun 49 waduk 2014-2019, yang saat ini telah mengerjakan pembangunan 13 waduk sejak 2015 dan 8 waduk sejak 2016.

Dalam sektor ekonomi, Jokowi merubah izin penanaman modal investor yang selama ini harus menunggun 2 tahun, menjadi hanya 3 jam. Bahkan, dalam kurun waktu 9 bulan  Jokowi melunasi sebagian hutang peninggalan SBY sebesar Rp 293 triliun. Indonesia juga mencetak sejarah baru, dengan masuknya investasi sebesar Rp 400 triliun dalam kurun waktu 9 bulan.

Indonesia juga menandatangani MOU investasi dengan Italia sebesar USD 1,055 miliar dalam bidang Logistik, Industri Kulit, Industri Otomotif dan Furniture.

Indonesia juga meresmikan pabrik pupuk terbesar di Asia Tenggara, Pupuk Kaltim 5 Bontang dengan kapasitas produksi Ammonia 825.000 ton per tahun dan produksi Urea 1.155.000 ton per tahun.

Jokowi juga berani untuk tidak lagi memperpanjang kontrak Freeport yang telah 45 tahun menggali Emas di Papua.

Dalam sektor perikanan, Presiden Jokowi mengeluarkan Perpres No.115 tahun 2015 untuk Kementrian KP yang mengizinkan Satgas Illegal Fishing untuk menangkap Kapal Asing Pencuri Ikan dan langsung menenggelamkannya.

Lebih lanjut, Pemerintahan Jokowi juga berhasil merampungkan ganti rugi korban lumpur Lapindo dalam kurun waktu 8 bulan.

Jadi selama ini, pembangunan pada era pemerintahan Jokowi dapat dikatakan berjalan pesat. Pemerintahan Jokowi juga selama ini memberikan dampak positif pada iklim ekonomi dan investasi di Indonesia.

Dengan adanya perbaikan dari segi tersebut, Indonesia diharapkan dapat mengejar ketertinggalannya dengan bangsa lainnya, sehingga dapat menjadi negara yang maju.

Previous Kementerian ESDM Gelar Kampanye Hemat Energy
Next 47 Keberhasilan Program Jokowi Bagi Kemajuan Bangsa Indonesia