GP Ansor Ajak Generasi Milenial Bentengi Diri Dari Radikalisme Dan Intoleransi


Jakarta — Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, mengajak generasi muda atau milenial agar membentengi diri dari gerakan kelompok radikal dan antitoleransi.

“Sebab jika dibiarkan, risikonya adalah terkoyaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” kata Yaqut, Minggu (30/4).

Untuktuk membentengi diri dari kelompok radikal, menurutnya, bisa dilakukan dengan kegiatan kolektif yang bermuara pada hal-hal positif.

“Dengan berkembangnya teknologi informasi sekarang, kolektivitas di kalangan anak muda jadi berkurang. Mereka lebih intens berhubungan dengan gadget, bahkan dengan orang tua juga seperti itu,” kata dia.

Padahal kolektivitas, kata dia, bisa membentengi masyarakat dari gerakan kelompok radikal, antitoleransi yang ingin mengubah negara dalam bentuk lain. Dengan kolektivitas, masyarakat harus saling mengingatkan untuk membendung radikalisme.

Yaqut yang juga anggota Komisi VI DPR RI itu mengatakan belum lama ini ada kelompok tertentu yang ingin menggelar Forum Khilafah Internasional di Jakarta. Pihak kepolisian tidak memberi izin lantaran setelah dianalisa intelijen, selain mendatangkan banyak massa juga memiliki maksud mengubah ideologi negara Indonesia menjadi syariah.

Selain itu, dia mengatakan bahwa GP Ansor mengupayakan pembendungan radikalisme salah satunya lewat “Ansor Day Festival” pada Sabtu (29/4) dengan sasaran kaum muda.

“Ini adalah tradisi baru untuk mengenalkan Ansor, sekaligus mengajak generasi muda paham situasi dan kondisi negara,” kata pria yang akrab disapa Gus Tutut ini.

Dia mengatakan pihaknya juga mengajak generasi milenial memiliki mimpi baru untuk membangun bangsa Indonesia. Gus Tutut menceritakan, dulu semasa masih kuliah, mahasiswa memiliki mimpi untuk menumbangkan rezim orde baru yang dikenal sangat otoriter.

Mimpi itu akhirnya bisa diwujudkan dengan kolektivitas atau kebersamaan para mahasiswa di Indonesia.

“Tapi kalau generasi milenial sekarang seperti apa, saya tidak tahu. Jangan-jangan malah tidak punya mimpi baru. Saya berharap generasi muda bisa membangun mimpi bersama-sama atas negara ini, atas kehidupan kita yang akan datang, ini penting. Kalau tidak punya mimpi, hidupnya akan begini-begini saja,” kata dia.

Generasi milenial menghadapi tantangan tersendiri, salah satunya adalah perkembangan teknologi informasi sehingga mereka lebih banyak berinteraksi menggunakan gadget.

Kemudaahan interaksi tersebut dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok radikal dan intoleran sebagai wadah untuk menyebarkan paham mereka.

Karena itu, generasi milenial harus jauh mawas diri dalam mengakses informasi tersebut agar tidak dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tersebut.

Justru, kemudahaan interaksi tersebut harus dimanfaatkan guna melawan kelompok-kelompok radikal dan intoleran, guna menjaga kesatuan NKRI.

Previous Tarif Listrik Tidak Naik, Pencabutan Subsidi 900 VA bagi RTM untuk mencapai Subsidi Listrik Tepat Sasaran
Next KPK Minta Fraksi Tolak Hak Angket Agar Terus Konsisten