Hasil survey smrc: PDIP dan presiden Jokowi akan menang dalam pemilu jika digelar saat ini juga


Jakarta, BuletinInfo – PDIP dan Presiden petahana RI Joko Widodo (Jokowi) berpeluang memenangi pemilihan umum jika pesta demokrasi itu digelar saat ini, bukan 2019.

Itu adalah temuan survei yang dilakukan Saiful Mujani Research Center (SMRC) pada 3-10 September 2017. PDIP menjadi partai politik yang mendapatkan dukungan terbesar dari responden yakni 27,1 persen dari 1.057 responden.

Hasil survei atas PDIP jauh di atas Golkar yang berada di tempat kedua, dan Gerindra di tempat selanjutnya. Golkar mendapat 11,4 persen dukungan, dan Gerindra dengan 10,2 persen pilihan.

Untuk dukungan terhadap PDIP ini, berdasarkan survei SMRC cenderung meningkat sejak awal 2007, dan berbanding terbalik dengan kondisi parpol lain.

“Ada kecenderungan dibanding pemilu 2014, semua parpol kecuali PDIP cenderung menurun atau stagnan. Golkar yang dapat 14 persen (di Pemilu 2014), sekarang pada posisi 11 persen. PDIP satu-satunya parpol yang kecenderungan suaranya menguat dan terlihat di trennya,” ujar Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan di kantornya, Jakarta, Kamis (5/10).

Perolehan positif PDIP sejalan dengan tingginya elektabilitas Jokowi. Pada survei yang sama, Jokowi mendapat dukungan dari 45,6 responden.

Dukungan terhadap Jokowi mengungguli pesaingnya dalam pilpres 2014, Prabowo Subianto. Ketua Umum Partai Gerindra itu dipilih 18,7 persen responden seandainya pemilu digelar saat survei.

Keunggulan Jokowi atas Prabowo bertahan meski survei dilakukan dengan cara spontan ke responden.

Top of mind¬†atau sosok yang langsung muncul di benak responden itu Jokowi 39 persen, disusul Prabowo 12 persen, SBY 1,6 persen, dan nama-nama lain di bawah 1 persen,” kata Djayadi.

Dari survei tersebut pun didapatkan bahwa Prabowo dianggap cenderung tidak mengalami kemajuan elektabilitas. Bahkan, kepuasan atas pemerintahan Jokowi disebutkan lebih baik dibandingkan kepuasan presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di masa dua tahun jelang pemilu nasional.

“Kepuasan kinerja SBY pada September-Oktober 2006 sebesar 67 persen, dan September 2007 turun menjadi 58 persen. Sedangkan Jokowi pada 2016 sebesar 69 persen, dan September 2017 sebesar 68 persen,” katanya.¬†(kid)

Previous Kementerian Agama: Tidak benar jika ada pesantren yang ajarkan paham radikal
Next Demo buruh tertib, itulah buruh Indonesia dalam peringati hari kerja layak internasional