Intelijen Indonesia yang profesional karena anggotanya merupakan yang terbaik dibidangnya masing-masing


Jakarta, BuletinInfo -Sebuah negara yang memiliki kekuatan pertahanan kuat bisa dilihat dari bentuk dan pengorganisasian intelijennya. Karena dengan keberadaan institusi tersebut perkembangan setiap wilayah bisa diketahui dan dianalisis untuk diolah dan dijadikan data ketahanan wilayah.Intelijen sebagai mata dan telinga negara, memiliki peranan sangat penting, khususnya untuk kepentingan nasional dalam menjaga stabilitas dan mengendus suatu ancaman sedini mungkin. Dahulu saat perang dingin masih berlangsung antara Uni Soviet dengan Amerika Serikat, operasi intelijen secara besar-besaran namun tertutup, digelar di tiap-tiap wilayah lawan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing sasarannya. CIA dan KGB dulu menjadi intelijen yang paling di takuti di dunia. Namun , Intelijen Indonesia juga tidak kalah ditakuti dengan segala “Power”nya.

Kalau dulu mendengar kata intel… hmm, bulu kuduk langsung merinding. “Awas, ada intel!” begitu kira-kira peringatan dari sejumlah orang, kalau kita melakukan sesuatu yang kira-kira agak menyerempet urusan negara. Dulu, selalu ada intel di mana-mana. Di warung kopi pun ada intelnya. Pokoknya mirip seperti semboyan, “dinding saja ada telinganya” untuk menggambarkan keberadaan aparat intel. Nah, sekarang bagaimana?

Orang intelejen atau badan intelijen sekarang dengan dulu sangat berbeda. Dulu pada zaman Soekarno kita mengenal adanya KIN (Komando Intelijen Negara), lalu berubah pada zaman Soeharto menjadi BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara). Saat itu, lembaga intelijen benar-benar menjadi perpanjangan tangan penguasa. Siapapun yang hendak merongrong penguasa, harus berhadapan terlebih dahulu dengan lembaga intelijen. Tangkap menangkap sergap menyergap sudah biasa. Dengan berdalih undang-undang subversi, intelijen memiliki kekuatan yang luar biasa dengan melakukan penangkapan terhadap siapa saja yang dicurigai atau diduga akan melakukan sesuatu yang negatif yang dapat mengancam stabilitas negara.
Oleh sebab itu siapapun yang baru memiliki niat saja, dan ketahuan oleh anggota intelijen langsung ditangkap dan negara tetap dalam keadaan aman dan stabil.  Hal itu yang menjadi poin penting kekuatan Intelijen pada masa Soeharto. Stabilitas keamanan negara di jamin oleh intelijen.
Zaman pun berubah,  penguasa berganti. Pada era Reformasi, zaman Megawati BAKIN diubah menjadi BIN (Badan Intelijen Negara). Perubahan dilakukan sebagai upaya untuk menjadikan lembaga intelijen sebagai lembaga yang profesional.  Tidak ada lagi undang-undang Subversi karena pada tanggal 31 maret 1999 di cabut. Intelijen tidak lagi sebagai alat kekuasaan. Sayang, saat itu tetap saja pandangan publik miring terhadap BIN. Apalagi pada masa Megawati, kepala BIN dijabat oleh AM. Hendropriyono, yang dikenal dekat dengan Megawati. Alhasil, BIN tetap dituduh sebagai alat penguasa.
Zaman berubah lagi. Pada masa pemerintahan SBY, BIN masih eksis. Namanya masih tetap BIN. Tugas dan fungsi BIN pun kemudian diperjelas dan diperkuat melalui Undang-undang No 17 tahun 2011 tentang Intelijen Negara. Jelas disebutkan bahwa BIN adalah koordinator intelijen dari berbagai lembaga intelijen di beberapa institusi lain. BIN juga bukan alat kekuasaan melainkan alat negara. Presiden ditempatkan sebagai kepala negara. Segala hal yang menyangkut keselamatan kepala negara, juga menjadi salah satu tanggung jawab BIN.
Memang banyak perubahan yang terjadi. Apalagi jika dibandingkan dengan zaman Soekarno atau Soeharto. BIN sekarang tidak bisa semena-mena lagi seperti dulu. Beda banget. Tidak ada main tangkap dan sejenisnya. Tidak ada juga main mata-mata sembarangan. Semua dilakukan melalui prosedur, termasuk prosedur untuk mengetahui pihak-pihak yang membahayakan negara, baik di dalam maupun di luar negeri.
Secara kasat mata , BIN saat ini lebih mengutamakan operasi intelijen untuk kepentingan negara, keamanan dan keselamatan negara.  Presiden sebagai user BIN jelas pasti menggunakan kehebatan intelijen saat ini. Apapun informasi yang di dapatkan BIN langsung diberikan kepada Presiden pada kesempatan pertama. Pada masa pemerintahan Presiden Jokowi BIN menjadi lembaga yang bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat dan lebih terbuka dibandingkan sebelumnya. meski demikian BIN juga memiliki peran penting menjaga stabilitas negara, dimana sangat terlihat saat pilkada DKI Jakarta dapat berjalan lancar walaupun saat itu begitu kuat isu SARA yang jika tidak di antisipasi dapat membuat merusak NKRI.
Sejumlah aksi bela Islam berjalan dengan damai dan tertib juga tidak dapat dipungkiri kuatnya peran intelijen dan juga adanya paham Khilafah yang ingin merongrong Pancasila merupakan diteksi dini yang kongkrit untuk menjaga keutuhan NKRI. BIN selalu mencari dan mendapatkan yang terbaik, banyak profesional dari berbagai bidang menjadi anggota BIN .  Jadi, jangan underestimate BIN, yang sekarang sudah punya tenaga profesional hebat. Yang jadi pertanyaan saat ini bagaimana jika saat ini BIN diberikan penguatan lagi untuk dapat menangkap siapapun yang dapat mengancam keutuhan negara? Bukankah Intelijen Indonesia akan semakin kuat lagi.
(HA)
Previous Badko HMI Gelar Seminar Kebangsaan bertemakan Tolak Khilafah dan Memperkokoh Pancasila di Bali Nusra
Next Hak angket KPk di DPR berakibat ancaman DPR membekukan anggaran KPK-Polri