Islam Itu Damai Dan Toleran, Bukan Kebencian Dan Pecah-Belah


Islam merupakan agama yang damai dan ditujukan untuk memberikan rahmat terhadap isi dunia.

Namun kenyataannya pada akhir-akhir ini, banyak sekelompok orang Islam di Indonesia yang menggunakan nama Islam untuk melakukan hal-hal yang sangat tidak Islami.

Kelompok tersebut mengatasnamakan Islam, namun menyerukan kebencian, kasar, memecah-belah, intoleran, dan masih banyak lainnya.

Semakin hari, Islam Indonesia kian satu warna dan satu suara, kian konservatif bahkan ultrakonservatif, dan dengan demikian akan kian akrab dengan kepicikan dan kekerasan.

Hal ini sangat mirip dengan beberapa tahun yang lalu di beberapa negara yang mayoritas muslim seperti Afghanistan, Syriah, dan Pakistan.

Negara tersebut hancur luluh lantah akibat sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam dan membuat perpecahan dan kehancuran di negaranya sendiri.

Kelompok-kelompok tersebut berusaha untuk memaksakan pola pikirnya dan menggunakan kekerasan untuk memenuhi keinginannya.

Suasana seperti ini semakin terlihat dari sebelum pilkada serentak 2017.

Di saat-saat Pilkada, terutama di Ibu kota, sering kita menyaksikan ekspresi-ekspresi keagamaan yang paling norak dan paling dangkal.

Bahkan saat ini mereka seakan-akan menambahkan rukun Islam dengan poin kewajiban orang Islam Jakarta untuk memilih paslon Muslim.

Tindakan mereka tidak sampai situ saja, malahan saat ini pilihan politik menentukan nasib jenazah apakah akan disalatkan atau tidak.

Yang paling parah, umat Islam dibuat agar seakan-akan merindukan sosok Soeharto yang dulu dianggap sebagai taghut atau tiran paling efektif dalam mematikan politik Islam.
Padahal sewaktu berkuasa, Soeharto sangat represif terhadap Islam, apakah mereka lupa dengan kasus seperti Tanjung Priuk?
Ini artinya, Islam masa Pilkada adalah jenis Islam yang paling tidak konsisten dan paling manipulatif yang dapat kita saksikan.

Saat ini, umat Islam dimanipulasi oleh orang-orang yang memakai kedok Islam agar berekspresi untuk adalah membenci seorang aseng dan diajarkan untuk mengemis kepada asing-asing lainnya.

Padahal orang-orang yang berkedok Islam tersebut menyokong non-Muslim di suatu daerah dan memaki-maki calon non-Muslim di daerah lainnya.

Islam yang diserukan oleh kelompok tersebut disesuaikan dengan kepentingan politik yang paling sempit, bukan Islam yang mengabdi untuk keutuhan tenun kebangsaan kita.
Islam di masa Pilkada adalah jenis Islam yang berdinamika di seputar sistem demokrasi yang menghalalkan suksesi kekuasaan dan kompetisi yang reguler dalam jangka lima tahunan.

Sistem ini memang belum pernah dianut umat Islam sejak zaman Nabi sampai dengan runtuhnya sistem Khilafah Turki Usmani (1924). Dalam sistem ini, yang dipilih bukanlah Khalifah atau Sultan, atau siapakah yang paling Islami, tapi siapa yang paling baik untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat selama lima tahunan.

Keberadaan kelompok-kelompok Islam seperti inilah yang merusak nama dan orang Islam itu sendiri.

Mereka menggunakan nama Islam hanya untuk memenuhi kepentingan sendiri belaka, tanpa peduli terjadi gesekan dan perpecahan di masyarakat.

Bahkan, mereka tega melihat kebhinekaan Indonesia yang dulu terjalin erat, sekarang terkoyak-koyak, akibat kepentingan politik mereka semata.

Umat Islam harus mengerti dan menolak kelompok-kelompok ini, karena selama ini Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW selalu mengajarkan kedamaian dan persatuan.

Jangan mau dihasut untuk memusuhi dan bahkan melakukan kekerasan mengatasnamakan agama, lantaran orang tersebut berbeda dengan kita.

Previous Mentan Minta Petani Jual Gabah Ke Bulog supaya bisa diserap Maksimal
Next Pemerintah Kejar Pembangunan 21 Infrastruktur Untuk Pemerataan Pembangunan