Isu SARA Diputaran Kedua Pilkada DKI Justru Dinilai Akan Merugikan Pengusungnya


Jakarta – Isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) dinilai masih akan mewarnai putaran kedua Pimilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta, sebagai cara untuk menjatuhkan reputasi salah satu pasangan calon.

Hal itu disampaikan oleh pengamat politik Emrus Sihombing.

Akan tetapi, menurut Emrus, penggunaan isu SARA justru akan merugikan pihak yang memanfaatkan hal itu.

“Tetapi kalau yang diangkat sisi negatif justru merugikan yang mengangkat itu,” kata Emrus kepada INILAHCOM, Selasa (7/3).

Selain itu, dia mengatalan bahwa isu SARA kebanyakan dijadikan sebagai upaya komunikasi politik guna memenangkan salah satu pasangan calon pada pilkada nanti.

Kemudian dia juga menekankan bahwa isu SARA yang digunakan diharapkan berada dalam konteks positif yang artinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

“Isu SARA dalam pengertian positif sah misalnya dalam konteks homogenitas dari sudut kesukuan, kemudian relegiusitas pemilih dengan calon,” pungkasnya.

Seperti yang diketahui bahwa, Komisi Pemelihan Umum Daerah DKI Jakarta, telah menentapkan proses kampanye putaran kedua bagi dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahol)-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Selain itu, proses kampanye sedianya dimulai dari tanggal 7 Maret hingga 15 April 2017. Pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi disarankan untuk mengusung isu yang menyangkut kepentingan masyarakat Jakarta dalam kampanye putaran kedua ini.

Previous Presiden Joko Widodo Pastikan Komitmen RI Berantas Illegal Fishing
Next Ini Klarifikasi Zakir Naik terkait tuduhan mendanai ISIS