Kapal Jangkrik, Kapal Pengolah Gas Terbesar Rakitan Indonesia


Jakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memastikan kapal pengolahan gas terbesar di Indonesia, yakni Kapal Floating Processing Unit (KPU) Jangkrik akan mulai berproduksi pada Juli 2017.

Kapal Pengolahan Gas raksasa ini akan ditarik berlayar ke Selat Makassar, untuk ditempatkan di wilayah kerja migas Jangkrik, Muara Bakau, Kalimantan Timur, dalam waktu beberapa hari ke depan. Diperkirakan waktu yang akan dibutuhkan untuk pelayaran tersebut adalah selama 12 hari.
Diperkirakan produksi gas sebesar 450 MMSCFD dapat dihasilkan dari lapangan kerja Jangkrik, yang sebagian besar gas tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, salah satunya untuk kelistrikan nasional.

“Gas sebanyak 450 MMSCFD apabila dioperasikan sebagai baseloader (pembangkit pemikul beban dasar) cukup untuk membangkitkan power plant sampai kapasitas 2.250 mw,” kata Kepala Divisi (Kadiv) Gas dan BBM PT PLN (Persero) Chairani Rachmatullah, Jakarta, Rabu (22/3/2017).

Dari total 450 MMSCFD, dia mengatakan akan dikalikan 5, maka hasilnya 2.250 MW, dari 2.250 Mw setara dengan 2.250.000 Kw, dari 2.250.000 Kw dibagi dengan 900 maka hasilnya 2.500, dan jika di bagi dengan 1.300 maka hasilnya sekitar 1.730.

“Kapasitas listrik ini akan mampu melayani sampai dengan 2.500 pelanggan dengan daya 900 VA, atau sampai dengan 1.730 pelanggan dengan daya 1.300 VA,” tambahnya.

Total pelanggan yang dilistriki itupun dengan catatan total produksi gas pada lapangan kerja Jangkrik jika seluruhnya untuk kelistrikan nasional.

Saat ini, produksi gas yang diolah di kapal pengolahan gas terbesar di Indonesia, sebesar 52% akan dialokasikan kepada PT Pertamina (Persero) yang nantinya akan dijual kepada PT PLN (Persero) untuk kebutuhan listrik nasional.

Sedangkan alokasi sebesar 38% akan dimanfaatkan oleh ENI Midstream, dan sekitar 10p akan didistribusikan ke kawasan industri pupuk yang berada di Kalimantan Timur.

Selain itu, kapal pengolahan gas Jangkrik juga berfungsi sebagai penyulingan dan menstabilkan kondensat serta menyalurkannya ke darat melalui jaringan distribusi setempat dan berakhir di kilang kondensat Senipah.

Lebih lanjut, untuk proyek produksi lapangan Jangkrik tersebut, dapat diselesaikan setahun lebih cepat dari rencana yang ditetapkan pemerintah.

Selain itu, pemerintah juga berhasil menghemat sekitar US$ 300 juta dari rencana awal investasi.
“Atas nama pemerintah, saya mengucapkan terima kasih sekali bahwa investasi (proyek Jangkrik) ini bisa menghemat US$ 300 juta. Dari yang direncanakan US$ 4,5 miliar, kurang lebih sekarang menjadi sekitar US$ 4,2 miliar. Itu besar sekali, ini Rp 50 triliun lebih. Kedua, proyek ini juga lebih cepat hampir 12 bulan dari rencana Pemerintah,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan.

Previous Semua Pihak Diharap Dapat Menciptakan Pilkada Papua Damai
Next Polemik Angkutan Online Jangan Gunakan Cara Anarkis, Mari Selesaikan Dengan Cara Damai