KWI ingatkan kembali konsensus bangsa Indonesia yaitu Pancasila


Jakarta, BuletinInfo -Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Umat Katolik Indonesia mempertegas kembali bahwa para pendiri bangsa (founding fathers) dengan sangat tepat dan benar telah mewariskan Pancasila kepada bangsa Indonesia.

Hanya Pancasila lah yang dapat menjadi Dasar Negara dan Falsafah Kehidupan Bangsa Indonesia yang sangat multikultur, karena digali dari nilai-nilai luhur Nusantara. Penegasan ini disampaikan melalui Konferensi Nasional (Konfernas) Umat Katolik Indonesia yang diadakan di Kampus Universitas Atma Jaya Jakarta, Sabtu (12/8) besok.

Konfernas umat Katolik Indonesia ini akan dibuka oleh Sekretaris Jenderal KWI, Mgr Antonius Subianto Bunyamin OSC serta akan ditutup oleh Ketua Komisi Kerawam KWI, Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr.

Selain itu, Konfernas ini akan dihadiri oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Riacudu, serta Menteri Komunikasi, Informasi dan Informatika Rudiantara.

Pertentangan kuat dan keras yang muncul antara nilai mayoritas dan minoritas, antara muslim dan nonmuslim, intoleransi, radikalisme, pendukung Pancasila dan menolak Pancasila yang muncul seiring dengan berbagai momentum politik yang baru saja berlalu, ternyata tidak hanya memunculkan keprihatinan, kekhawatiran, tetapi harus diakui juga merupakan berkah bagi bangsa, negara, dan tanah air Indonesia, karena hal ini mengingatkan kembali atas Perjanjian Luhur bangsa Indonesia yang harus selalu dipelihara dan dijaga.

Harus diakui, kondisi nasional saat ini membantu bangsa Indonesia dan para pemimpinnya untuk terbuka matanya, melihat secara lebar dan bangun setelah tidur panjang karena dininabobokan oleh semangat reformasi.

Bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke digugah, dibangunkan dan disadarkan adanya ancaman disintegrasi yang amat serius yang dihadapi oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ancaman disintegrasi itu meletakkan bangsa, negara serta Kemerdekaan Indonesia pada masa depan yang kabur dan bahkan tidak jelas. Berbagai fenomena politik yang muncul, secara tidak langsung juga memertanyakan kembali hakikat Konsensus Dasar Nasional yakni Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945.

“Generasi demi generasi Indonesia yang hidup di berbagai pulau, provinsi, kabupaten, kecamatan, kelurahan, desa, dusun, hanya lah pewaris dan penerus apa yang telah dibangun oleh founding fathers. Bahwa ada gerakan yang ingin merobohkan negara Indonesia dengan cara menghancurkan Pancasila mengindikasikan hilangnya jati diri bangsa dari generasi-generasi Indonesia. Oleh karenanya upaya merawat nilai-nilai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ini tidak boleh dinomorduakan dan harus senantiasa dilakukan secara sistematis oleh Pemerintah dan semua komponen masyarakat dengan tanpa mengenal lelah,” kata Muliawan Margadana, Ketua Panitia Konfernas Umat Katolik Indonesia, dalam siaran persnya, Jumat (11/8).

Menurut dia, indikasi di atas sekaligus menjelaskan bagaimana pendidikan di Indonesia direncanakan dan berjalan selama ini, bagaimana partai politik di Indonesia menyiapkan para kadernya, bagaimana proses pembentukan pemimpin daerah dan pemimpin nasional, demokrasi dan politik Indonesia berjalan, serta bagaimana seharusnya peran para pemuka agama.

“Jika Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD NRI 1945 yang merupakan Konsensus Dasar Nasional diabaikan, sudah pasti Indonesia sedang berjalan menuju ke kehancuran. Sudah saatnya momentum titik kembali itu dimulai untuk mengingatkan akan landasan konsensus kita sebagai bangsa,” imbuhnya.

Penetapan Hari Lahirnya Pancasila, pemberlakukan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan UU No 17/2003 tentang Organisasi Kemasyarakatan dan pembentukan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) harus menjadi momentum resureksi jati diri bangsa yang dijiwai nilai-nilai Pancasila. Hal inim, kata Muliawan, sebagai langkah awal membangun kembali kewaspadaan nasional atas banyaknya ancaman yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia.

Konfernas umat Katolik Indonesia, yang diselenggarakan KWI dan didukung semua elemen Katolik se-Indonesia termasuk Organisasi Kemasyarakatan Katolik seperti Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Pemuda Katolik (PK), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKRI), Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI), Universitas Katolik seperti Universitas Katolik Parahyangan, Universitas Katolik Atma Jaya Indonesia, Universitas Katolik Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Katolik Soegiyopranoto, Keuskupan, dan para tokoh/guru/politisi/birokrat, merupakan keputusan strategis Gereja Katolik Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (RO/OL-2)

Previous Lanal Tanjung Balai Karimun amankan 100 komputer jinjing dan telepon genggam berbagai merek, ponsel tablet merek Advan serta alat kosmetik dan Vave Elektronik
Next Tjahjo Kumolo: Presiden Jokowi pekan depan akan tandatangani UU Pemilu

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *