Masyarakat Harus Berhati-hati Karena 90 Persen Pembobolan Bank Dilakukan Oleh Orang Dalam


Jakarta, BuletinInfo– Kasus pembobolan bank yang pernah terjadi di Indonesia hampir 90 persen melibatkan orang dalam dari bank itu sendiri. Bahkan, pembobolan bisa terjadi karena nasabah itu sendiri.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pengawasan Bank 2 Anung Herlianto akhir pekan ini.

“Saya tidak spesifik ke BTN, Jadi begini, kasus pembobolan itu 90 persen-93 persen selalu melibatkan orang dalam dan atau nasabah, yang sukarela misalnya mencuri sendiri,” kata dia.

Dia kemudian melanjutkan bahwa kesempatan pembobolan bank juga terjadi karena sikap nasabah yang malas dalam melakukan administrasi. Beberapa nasabah bahkan selalu memanggil pihak bank untuk bertemu di rumah atau di kantornya.

“Orang yang punya duit itu selalu tidak ingin datang repot melakukan administrasi, mereka itu minta pihak bank yang datang, kasus motif BTN bukan sekali ini saja dan mungkin masih ada lagi, seperti kasus BPR, di mana saya nabung dikasih bilyed tapi ketika saya mau cairkan itu tidak bisa, lalu misalnya saya nabung kenal baik sama orang bank, dan orang yang banyak dana ini lebih percaya pada satu orang itu,” jelasnya.

Dari kedekatan nasabah dengan pegawai bank juga bisa menjadi indikasi awal kasus pembobolan di bank.

Oleh sebab itulah, saat ini OJK menerapkan aturan baru yang mana pegawai harus bergantian melayani nasabah-nasabahnya.

“Ketika nasabah berhubungan dengan pegawai bank, dan pegawai itu melakukan fraud bank harus ganti dulu baru urusan dengan pegawai, contohnya di bank itu selama dua tahun bekerja dia enggak pernah cuti itu tanda-tanda awal, makanya kita sekarang menerapkan 2 minggu cuti supaya bisa dilihat dengan temannya dan nasabah bisa terbiasa dengan pegawai yang lain,” ujarnya.

OJK, jelas Anung, akan melakukan penyesuaian kembali terhadap aturan-aturan pengawasan perbankan, terutama pada sistem pengawasan internal perbankan itu sendiri guna meredam aksi pembobolan yang melibatkan pegawai sendiri maupun nasabah.

“Regulasi kita itu sudah common practice yah, regulasi kita itu malah lebih bagus dibandingkan regulasi perbankan di eropa dan bahkan AS serta Jepang, dan kita seperti permodalan kita terbaik nomor 2, likuiditi kita terbaik, intinya kita akan assess internal control di seluruh bank terkait kasus bank,” tukasnya.

Jadi, dengan adanya OJK diharapkan dapat mengatur regulasi yang dapat meredam aksi pembobolan bank akibat orang dalam.

Masyarakat sendiri juga dinilai harus lebih berhati-hati lagi dalam melakukan administrasi di perbankan, sehingga nantinya tidak menjadi korban dari pembobolan bank akibat orang dalam.

Previous Nazaruddin mengaku Pimpinan Banggar ikut menerima Uang E-KTP
Next Mendag: Pasokan Bahan Pokok Jelang Lebaran Aman