Menakjubkan, Indonesia Barter Kopi Dan Sawit Dengan 11 Pesawat Sukhoi SU-35 Rusia


Jakarta, BuletinInfo.com – Rencana Pemerintah Indonesia untuk mendatangkan pesawat tempur kelas berat Sukhoi SU-35 dari Rusia tinggal selangkah lagi.

Kesepakatan imbal beli 11 unit pesawat generasi 4++ dengan komoditas kopi, karet, dan kelapa sawit tersebut dituangkan dalam bentuk penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding / MoU) antara perusahaan Rusia, Rostec, dengan BUMN Indonesia, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI).

Berdasarkan keterangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) sebelumnya, nilai imbal beli mencapai USD570 juta. Adapun nilai pengadaan 8 unit pesawat tempur Sukhoi SU-35 senilai USD1,14 miliar. ”Imbal beli di bawah supervisi kedua pemerintah ini diharapkan dapat segera direalisasi melalui barter 11 Sukhoi SU-35 dengan sejumlah produk ekspor Indonesia mulai dari kopi dan teh hingga minyak kelapa sawit dan produk-produk industri strategis pertahanan,” ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melalui keterangan tertulisnya kemarin.

Enggartiasto berharap, kesepakatan imbal beli kali ini dapat disusul dengan kesepakatan serupa menyangkut produk atau sektor lain. Menurutnya, kesempatan tersebut kini sangat terbuka karena Rusia menghadapi embargo perdagangan dari Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, serta sekutu-sekutunya terkait isu keamanan dan teritorial.

Disisi lain Rusia membalas dengan mengenakan sanksi pembatasan impor dari negara-negara tersebut. Akibat embargo dan kontraembargo ini Rusia memerlukan sumber alternatif untuk memenuhi kebutuhan pangan, termasuk buah-buahan tropis, serta produk esensial lainnya.

”Ini peluang yang tidak boleh hilang dari genggaman kita. Potensi hubungan ekonomi yang memanfaatkan situasi embargo dan kontraembargo ini melampaui isu-isu perdagangan dan investasi yang biasa karena kita juga melihat peluang di bidang pariwisata, pertukaran pelajar, kerja sama energi, teknologi, kedirgantaraan, dan lainnya,” imbuh Enggartiasto.

Dalam pertemuan dengan Rusia, Indonesia menggarisbawahi potensi kerja sama di bidang minyak nabati, produk makanan dan kehutanan, serta produk industri pertahanan. Sementara itu Rusia menawarkan sejumlah produk teknologi tinggi seperti peralatan pengatur lalu lintas udara, pesawat penumpang sipil, serta minat berinvestasi di sektor energi dan mengikuti kegiatan pengadaan oleh pemerintah. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menyambut gembira kesepakatan imbal beli tersebut.

Dia menyampaikan optimismenya bahwa kerja sama tersebut akan menguntungkan industri sawit. ”Perdagangan minyak sawit Indonesia dapat meningkat dua kali lipat dalam satu sampai dua tahun ke depan,” tandas Sahat.

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia (LBBP RI) untuk Rusia M Wahid Supriyadi menjelaskan bahwa Rusia merupakan mitra perdagangan Indonesia yang potensial, khususnya untuk minyak sawit.

Dengan adanya imbal beli tersebut, ekspor sawit ke Negeri Beruang Merah tersebut bisa semakin digenjot. Pada 2016, Indonesia mengekspor lebih dari 663.000 ton minyak sawit ke Rusia dengan nilai kurang lebih USD440 juta.

”Ekspor minyak sawit Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun serta potensinya masih sangat besar untuk ditingkatkan,” ungkapnya.

Sebelumnya, untuk mendukung rencana tersebut, Kemendag telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 44/M-DAG/PER/6/ 2016 tentang Ketentuan Imbal Beli untuk Pengadaan Barang Pemerintah asal Impor sebagai landasan hukum untuk instrumen tersebut. Skema imbal beli merupakan suatu cara pembayaran barang yang mewajibkan pemasok luar negeri untuk membeli dan atau memasarkan barang tertentu dari Indonesia sebagai pembayaran atas seluruh atau nilai sebagian barang dari pemasok luar negeri.

Selain imbal beli, instrumen lain yang bisa dipergunakan oleh pemerintah antara lain adalah barter atau pertukaran barang dengan barang lain, pembelian kembali dan offset atau pembelian barang di mana pemasok luar negeri menyetujui untuk melakukan investasi kerja sama produksi dan alih teknologi.

Skema imbal beli tersebut wajib dilaksanakan pada program pengadaan barang asal impor seperti oleh kementerian/ lembaga, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, lembaga pemerintah nondepartemen yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Proses pembelian Sukhoi SU-35 untuk menggantikan F-5 Tiger yang sudah uzur melewati jalan panjang.

Kondisi ini terjadi karena pembelian pesawat canggih tersebut terbentur Undang-Undang No 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan yang salah satunya mengharuskan adanya transfer of technology (ToT) dalam transaksi alutsista. Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya disepakati mekanisme imbal beli.

 

Previous MUI Terangkan Pancasila Bukan Agama, Tapi Tak Bertentangan
Next Satgas Patroli Siber Bareskrim kembali tangkap tersangka ujaran kebencian, Sri Rahayu Ningsih ditangkap di Cianjur