Menteri Agama Lukman Ajak Muslim Dunia Suarakan Islam sebagai Agama Kedamaian


Jakarta, BuletinInfo – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak umat Muslim di berbagai penjuru dunia untuk menyuarakan Islam sebagai agama kedamaian. Ajakan ini disampaikan Menag saat menjadi pembicara pada Konferensi Internasional di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Konferensi ini diselenggarakan oleh Muntada Ta`ziiz al-Silm fi al-Mujtama`aat al-Muslimah (Forum untuk Mempromosikan Budaya Damai di tengah Masyarakat Muslim) dengan tema Perdamaian Dunia dan Islamphobia.

 Senin (11/12/2017), Menag menjelaskan, tugas ulama (cerdik cendekia) dan hukama (orang-orang bijak) semakin berat, di tengah konflik antar umat Islam sendiri serta kampanye benturan peradaban, Islam dan Barat. Apalagi, peristiwa 11 September 2001 di Amerika telah menimbulkan ketegangan dalam hubungan antara Islam dan Barat kembali terbuka.

Meski dunia Islam mengecam dan mengutuk aksi tersebut, tetapi kencenderungan menjadikan Islam dan umat Islam sebagai ‘tersangka’ terus semakin meningkat. Setiap aksi kekerasan (terorisme) yang dilakukan sekelompok kecil umat Islam dan mengatasnamakan Islam, padahal Islam tidak merestuinya, selalu dikaitkan dengan Islam sebagai agama kekerasan yang tidak bisa bersanding dengan komunitas dan peradaban lain.

 Kondisi ini diperburuk dengan kampanye Islamophobia yang disuarakan pihak-pihak tak bertanggung jawab hingga menyuburkan fenomena kebencian dan ketakutan terhadap Islam. Begitu meratanya fenomena tersebut, sehingga politik identitas di Eropa kembali menguat belakangan ini. Tebar kebencian terhadap Islam dan umat menjadi komoditas politik yang diminati untuk mendulang suara dalam setiap pemilihan umum.

“Di tengah situasi seperti ini, kita harus terus menyuarakan secara lantang Islam sebagai agama kedamaian. Islam mengajak umat manusia untuk hidup dengan aman dan damai,” terang Menag dalam pidato yang disampaikan dalam Bahasa Arab di Abu Dhabi.

“Esensi ajaran kedamaian bisa ditemukan dari nama Islam itu sendiri yang berasal dari satu akar kata dengan al-silm yang berarti kedamaian. Itulah esensi semua ajaran agama yang disampaikan oleh para nabi, termasuk Nabi Musa dan Nabi Isa,” sambungnya.

Menag mengatakan, Islam mengajarkan umatnya untuk menebar kedamaian melalui ucapan dan perbuatan, baik kepada yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Ketika ditanya, bagaimana cara berislam yang paling utama, Rasulullah menjawab, “tuth`imu al-tha`âma wa taqra`u al-salâma `alâ man `arafta wa man lam ta`rif (memberi makan orang miskin dan mengucapkan salam kepada yang dikenal dan yang tidak dikenal).

“Ketika umat Islam diminta untuk saling menebar salam, itu berarti tidak ada tempat di dalam Islam bagi kekerasan dan kebencian. Tebar kedamaian akan melahirkan cinta dan kasih sayang, sekaligus membuang jauh-jauh rasa kebencian dan permusuhan,” tuturnya.

Previous Kapolri Tegas Ancam Kartel Yang Permainkan Harga Dan Stok Pangan
Next Presiden Jokowi bertolak ke Istanbul untuk satukan suara negara-negara OKI bela Palestina