MUI Terangkan Pancasila Bukan Agama, Tapi Tak Bertentangan


Jakarta – Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, KH Cholil Nafis, mengatakan Pancasila yang menjadi ideologi bangsa Indonesia bukan agama. Akan tetapi, bukan berarti Pancasila bertentangan dengan agama.
Hal itu disampaikannya dalam kegiatan ‘Halaqah untuk Meneguhkan Dakwah Kebangsaan Sebagai Implementasi Komitmen MUI terhadap NKRI dan Pancasila’.
“Kita ada bersepakat hidup bersama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Cholil di Gedung Pusat MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Jumat (4/8).
Mengutip pernyataan dari Ketum MUI KH Ma’ruf Amin saat Milad ke-42 MUI, dia mengatakan Indonesia bukan negara agama, tetapi juga bukan anti agama.
“Tetapi negara kita adalah kesepakatan, bersepakat untuk bernegara, pluralitas, dan heterogenitas yang ada di Indonesia ini,” ujarnya.
Pancasila hadir sebagai pemersatu bangsa Indonesia. Namun, meski begitu Pancasila jangan sampai menjadi sekularisasi.
Di dalam Pancasila tertuliskan tentang ketuhanan. Hal ini menunjukkan jika ideologi bangsa ini tidak terlepas dari nilai-nilai keagamaan.
Cholil mengatakan ketuhanan yang tertuang dalam Pancasila ini dapat diterjemahkan oleh masing-masing umat beragama.
“Kita mentoleransi itu di dalam Undang-undang Dasar kita,” ujarnya.
Dia menjelaskan MUI telah lama berbicara tentang NKRI. Pada tahun 2006 dalam ijtihad ulama di Gontor, para ulama sudah menegaskan bahwa NKRI adalah sesuatu yang final.
“Pada 2009 ijtihad ulama di Padang disampaikan lagi, penegasan tentang NKRI adalah upaya untuk membangun kesatuan negara kesatuan Republik Indonesia, adalah upaya untuk memacu umat Islam mengembangkan kemajuan negara kesatuan ini,” ungkap Cholil.
“Pada kemarin terakhir 2015 di Surabaya saat Munas, juga ditegaskan lagi bahwa umat Islam wasathiyah, itu kerangka bagaimana agama dalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia,” lanjutnya.
Pada kegiatan halawah kali ini hadir
Wakil Ketum MUI Zainut Tauhid Sa’adi; perwakilan GNPF MUI Muhammad Lutfi Hakim; Ketua Pusat Studi Timur Tengah dan Islam Muhammad Lutfi Zuhdi; serta beberapa pengurus dan anggota MUI. (FC)
Previous Tindakan tegas satgas pangan terhadap mafia pangan patut di berikan pujian
Next Menakjubkan, Indonesia Barter Kopi Dan Sawit Dengan 11 Pesawat Sukhoi SU-35 Rusia