Mulai Dibangun 2015, Presiden Tinjau Proses Pembangunan Bendungan Karian Banten


Jakarta, BuletinInfo – Presiden Joko Widodo meninjau proses pembangunan bendungan Karian yang adalah bendungan ketiga terbesar di Indonesia setelah Jatiluhur dan Jatigede pada Rabu (4/10).

Proyek bendungan Karian yang berada di Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, sudah direncanakan  sejak tahun 1980 namun pembangunannya dimulai pada era pemerintahan Jokowi tahun 2015.
“Waduk Karian ini sudah direncanakan sejak tahun 80-an. Kemudian tiga tahun yang lalu kita eksekusi untuk dikerjakan,” ungkap Presiden.

Dari data teknis proyeknya, diketahui bahwa bendungan ini akan memiliki kapasitas sebesar 314,7 juta meter kubik. Nantinya, bendungan ini diharapkan dapat mengairi lahan seluas 22.000 hektare, untuk kemudian menyediakan pasokan air baku untuk beberapa wilayah sekitarnya sebesar 9,1 meter kubik per detik, pengendalian banjir dengan kapasitas tampung sebesar 60,8 juta meter kubik, dan menghasilkan tenaga listrik sebesar 1,8 MW.

“Ini dibendung dari Sungai Ciujung dan Sungai Ciherang. Kita harapkan dengan waduk ini bisa mengairi lahan kurang lebih 22 ribu hektare di Provinsi Banten dan yang kedua bisa menjadi air baku bagi Provinsi Banten dan Jakarta. Yang ketiga juga ada pembangkit listrik tenaga air di sini nantinya,” jelas Presiden.

Presiden mengatakan, bendungan ini ditargetkan dapat diselesaikan pada 2019 mendatang. Target tersebut ia berikan setelah melihat langsung pengerjaan di lapangan yang berjalan sesuai dengan harapan.

“Ini direncanakan selesai 2020. Tapi setelah melihat di lapangan dan pekerjaan bisa dipercepat, nanti pertengahan 2019 insyaallah bisa selesai,” ujarnya.

Untuk diketahui, di Banten sendiri pemerintah sedang membangun dua bendungan. Selain bendungan Karian, turut dibangun pula bendungan Sindang Heula di Kota Serang yang juga masuk dalam proyek strategis nasional.

“Kalau berbicara waduk, secara keseluruhan sampai saat ini telah dibangun 33 waduk dari 49 waduk yang direncanakan. Tahun depan akan tambah 11 waduk lagi yang dibangun, tahun depan dibangun sisanya,” ia menambahkan.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menambahkan bahwa upaya pembebasan lahan terus dilakukan agar target penyelesaian bendungan dapat tercapai.

Basuki optimistis, pembebasan lahan akan berjalan sesuai target. Pasalnya, bendungan itu dibangun di atas lahan milik PT Perkebunan Negara (PTPN)-VII. Total lahan yang digunakan untuk menggenangi bendungan ini mencapai 2.170 hektar

“Saya kira kalau sekarang ini, mau bangun jalan tol, mau bangun bendugan, selama itu melalui PTPN, Perhutani, itu lebih mudah dikerjakan. Bukan dilanggar (mekanismenya), pengurusannya dengan Menteri BUMN dan Menteri ATR,” kata Basuki.

Bila progres berjalan tepat waktu, ia menambahkan, bendungan itu tidak akan langsung dapat digunakan untuk mengairi sawah irigasi seluas 22.000 hektar dan menjadi sumber air baku bagi masyarakat Banten dan DKI Jakarta karena perlu menunggu waktu kira-kira selama setahun untuk menggenangi seluruh area dengan kapasitas 314,7 juta meter kubik.

Sementara itu, Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Imam Santoso mengaku, banyak kendala yang dihadapi pemerintah dalam mengeksekusi proyek itu. Namun, kunci keberhasilan dalam pembangunan itu terletak pada keberanian pemerintah.

Previous Guru Besar Sosiologi Agama UIN: Pancasila harus dapat dibumikan agar dapat memperkuat pemahaman dan pengamalanya di masyarakat
Next Presiden Jokowi: Isu soal turunnya daya beli masyarakat hanya dipolitisasi, sebenarnya tidak ada