Novel memiliki skenario besar ingin jadi ketua KPK


Jakarta, BuletinInfo – Gonjang-ganjing di tubuh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dilihat publik sebagai hal yang luar biasa dan bisa mengancam eksistensi lembaga antikorupsi itu, sebenarnya biasa saja.

Dua nama yang mencuat ke publik yakni Brigjen Polisi Aris Budiman dan Komisaris Polisi (Purnawirawan) Novel Baswedan seperti nya memang sengaja dipertentangkan media massa. Padahal kejadian tidak seperti itu.

Aris Budiman adalah Direktur Penyidikan KPK. Sedangkan Novel Baswedan adalah penyidik senior di KPK. Namun Aris kalah pamor dibanding Novel.

Aris adalah alumnus Akpol 1988. Sedangkan Novel tamatan Akpol 1998. Beda sepuluh tahun. Kalau di Polri, Aris sudah Kapolda bintang satu, Novel Baswedan baru selevel Kapolres.

Inilah uniknya KPK. Di lembaga ini nampaknya senior junior tidak berlaku. Yang berlaku adalah pengaruh dan siapa yang mampu bikin opini di media massa. Aris pasti kalah sama Novel jika bikin opini.

Sebagai orang yang cukup lama di KPK dan bertugas di lapangan jelas Novel lebih paham peta dalam KPK. Begitu juga dalam penanganan kasus. Novel langsung bersentuhan dengan kasus kasus yang ditangani KPK. Sedangkan Aris Budiman lebih banyak di bagian koordinasi.

Masih soal membangun opini. Novel Baswedan sangat dekat dengan media besar seperti Tempo dan jaringan LSM yang dibangun ICW dan mereka jelas berada di belakang Novel.

Jadi jangan heran kalau Novel seperti big bos dan orang suci di KPK. Jika ada serangan terhadap Novel dibangunlah opini seakan akan serangan itu terhadap lembaga KPK. Novel itu KPK dan KPK itu Novel.

Sebenarnya apa yang terjadi di KPK?
Berdasarkan informasi yang dihimpun DOBRAKNEWS di KPK, Novel itu pemimpin Kelompok 28 di KPK. Kelompok ini beranggotakan polisi dan semuanya adalah rekan satu angkatan Novel di Akpol dan sebagian juniornya.

Yang terjadi sekarang adalah tekanan kelompok 28 kepada penyidik Polri khususnya Brigjen Aris Budiman. Karena penyidik non polri ingin menguasai jabatan2 yg dipegang penyidik polri.

Ini masalah karir mereka rupanya. Dulunya tidak ada konflik ini karena adanya geng Novel merasa paling senior dan merasa sebagai penyidik senior.

Rupanya diam-diam kelompok Novel ini ingin naik posisi direktur dan deputi dengan harapan bisa jadi pimpinan KPK setelah itu.

Adanya perwira Polri senior seperti Aris Budiman dianggap penghalang bagi geng Novel. Untuk menendang Aris dari KPK dibuatlah isu integritas dan lain lain. Padahal Novel dkk maunya jabatan jabatan strategis itu dipegang kelompok mereka.

Sebagai informasi, Novel bukanlah lulusan akpol 98 yg ranking top di angkatannya. Dia cuma ada pada papan tengah. Yg top itu AKBP Robert Dedeo juga eks KPK. Dia Adhi Makayasa. Juga AKBP Nugroho yg juga Adhi Makayasa 1999. Juga AKBP Irhami yg top graduate di angkatannya.

“Jadi Novel itu gak ada apa-apanya” kata seorang penyidik di KPK yang merasa muak dengan manuver dan sinetron yang dibangun Geng Novel Baswedan dkk di KPK.

“NB gak ada apa2nya. Hasil kerjaan polisi polisi top ini yg dibajak oleh Novel untuk menutupi kelemahannya dan agar dianggap berintegritas dia nanti yg kelihatan di Media, TV, kasih bocoran ke majalah Tempo agar seolah2 hasil kerja dia. Teman2nya banyak kesal dan dongkol dengan kelakuannya ini. Dan bawa bawa agama supaya kelihatan di publik seperti seorang pahlawan anti korupsi,” kata penyidik KPK berpangkat AKBP tersebut.

“Teman angkatan Novel Akpol 98 tahu banget kelas dan kualitasnya Novel biasa saja. Mereka banyak yg mencibir dengan cara Novel membentuk opini di media seperti sosok yg hebat,” sumber menambahkan.

“Maka adanya perwira Polri senior seperti Aris Budiman dianggap penghalang bagi Geng Novel. Dibuatlah isu tentang integritas dan lain lain untuk menendang Aris Budiman dari KPK. Padahal Novel dkk maunya jabatan-jabatan itu mereka yang pegang.”

Novel pun masih minta puluhan penyidik Polri tapi pangkat AKP ke bawah. Agar Novel Baswedan tidak ada saingan dan bisa kendalikan yang yunior yunior tersebut.

Geng Novel paham betul bahwa masih perlu penyidik polri. Karena penyidik yang dari Polri mumpuni dan pengalaman serta mental berani menabrak tersangka koruptor dibanding penyidik yg dari sipil yg latar belakangnya tidak jelas.

Penyidik dari Polri juga mudah koordinasi dengan polisi wilayah yang diperlukan KPK untuk membantu mereka saat operasi di wilayah.

Ini terjadi karena Geng Novel Baswedan merasa karir mereka tertutup dengan dropping perwira senior dari polisi.
Padahal KPK itu dianggap oleh Novel dkk lahan karir mereka. Sedangkan penyidik Polri lahan karir mereka di Polri

Jabatan yg diincar Geng Novel: Direktur Sidik, Direktur Monitor, Kepala Pengawas Internal dan berikutnya Deputi.

Jika dalam Pilpres 2019 duet Prabowo – Anies Baswedan menang, target Novel Baswedan sebagai pimpinan KPK terwujud.

Di sisi lain, geng Novel seperti Afief mulai galau. Angkatan 1998 dan 1999 di Polri sudah pada jadi Kapolres. Mulai naik daun.

“Geng Novel Baswedan itu galau. Maka dia mulai kalah dengan teman angkatannya. Maka berusaha keras jadi Direktur atau eselon dua sehingga merasa tidak ketinggalan dari temannya yang masih dinas di Polri. Bahkan Novel Baswedan ingin lebih tinggi. Jika dia jadi Direktur Penyidikan di KPK, itu sama dengan level Kapolda bintang satu.

Jadi ini bukan soal penyidik polri integritas atau bukan. Ini soal jabatan dan karir. Lalu menguasai KPK untuk agenda mereka sendiri khususnya politik dukung Anies kedepan agar didukung posisi pimpinan KPK diambil kedepan. Begitu lah settingan Novel Baswedan dkk.

Media pro Novel seperti Tempo, memang menjadikan Novel hero. Imbalannya Novel membocorkan hasil penyidikan kasus di KPK ke media itu. Makanya jangan kaget jika Tempo selalu dapat berita update berita dari KPK. Itu bocoran Novel Baswedan.

Beberapa nama yang disebut polisi durhaka (Poldur) di KPK selain Novel adalah Damanik, M. Taufik Husein, Cristian, Rilo Pambudi, Rufrianto Yusuf, Bambang Sukoco, Afief Julian Miftah, Budi Agung Nugroho, Rizka Anungnata. Damanik tangan kanan Novel juga gak bersih-bersih amat. Waktu dinas di Polda Metro Jaya, juga sering meras sana sini.

Aris Rangkul Novel

Menurut seorang penyidik KPK, Aris Budiman tidak pernah merasa bersaing dan ingin bersaing dg Novel. Sejak masuk KPK lelaki berkacamata ini berusaha merangkul Novel Baswedan sebagai adik dan yunior.

Aris sejak dulu karakternya tidak ingin populer apalagi memunculkan diri ke media. Dan dia bukan media darling. Meski dia banyak prestasi di penanganan terorisme, bom bali, cyber dan korupsi serta pernah Dirkrimsus Polda metro. Dia tipe low profile.

Nah persoalannya, menurut penyidik berpangkat Kompol itu, sejak Aris jadi Dirdik, Novel lah yg bernafsu untuk mengambil jabatan itu. Novel yang mengundurkan diri dari Polri, galau sekarang.

“Dulu sewaktu teman angkatan Akpolnya masih pangkat AKBP atau Kapten, Kompol atau Mayor, Novel merasa lebih beruntung di KPK karena gaji jauh lebih besar, fasilitas kredit rumah, mobil, uang jalan, dan dana opsnal tidak terbatas,” kata sumber.

Di saat itu teman-teman angkatannya di Polri masih terseok seok di jabatan yg relatif rendah dalam struktur Polri. Novel merasa diatas teman-temannya tersebut meski ranking kelulusannya bukan top graduate.

“Novel hanya papan tengah atau rata-rata saja. Nah sekarang teman2nya sudah mulai banyak jadi kapolres. Jabatan yg cukup prestige. Dia galau karenarn masih sebagai penyidik senior KPK. Maka dia berambisi ut nakk posisi: eselon 2 atau setingkat Brigjen. Dengan demikian ia akan lebih tinggi dan lebih sukses dari teman angkatannya,” ujar sumber itu.

Previous Hasto: Sulut jadi halaman depan NKRI
Next BI: Integrasi akan meningkatkan efisiensi layanan publik melalui penerapan pembayaran secara non tunai