NU Akan Jaga Pancasila Dan Berada Di Garis Depan Melawan Kelompok Yang Ingin Menggantinya


KEBUMEN – Ribuan kader Nahdlatul Ulama (NU) ikuti apel dan istighotsah kader penggerak NU se-Jateng di Pantai Petanahan, Kabupaten Kebumen. Acara tersebut berlangsung Sabtu dan Minggu (15-16/4).

Ketua Panitia M Muzammil mengatakan apel kesetiaan itu digelar untuk mempertegas komitmen NU terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan siap berada di garda terdepan jika ada gangguan dari sejumlah pihak yang cenderung anti-Pancasila dan NKRI.

”Selama ini kami mungkin terlihat diam. Kali ini kami buktikan bahwa kami selalu bergerak demi agama bangsa dan negara. Kami tunjukkan bahwa NU tidak akan tinggal diam demi NKRI,” tegas Muzammil seraya mengingatkan, akhir-akhir ini gerakan anti-NKRI semakin masif.

Sementara, Mustasyar PBNU As’ad Said Ali saat menjadi inspektur upacara pada apel memberikan peringatan kepada kelompok thogho (berlebih-lebihan) agar segera menghentikan upaya mengganggu kedaulatan NKRI dan ideologi Pancasila dengan ideologi lain.

”Mereka menuduh Indonesia dipimpin oleh pemerintahan thoghut (setan). Padahal sesungguhnya merekalah yang thogho seperti Firaun disebut dalam Alquran, orang yang berlebih-lebihan atau keterlaluan. Wong hidup di Indonesia, bekerja di Indonesia, makan minum dan beranak pinak di sini, lha kok mau mengganti Pancasila dengan khilafah. Kelompok ini jelas thogho. Hadapi dulu NU kalau mau mengganti Pancasila dan NKRI,” tegasnya.

Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) juga menegaskan, berpolitik di Indonesia ada adab, tata krama, sopan santun, dan aturan yang berlaku. Sayangnya, di negeri ini menurutnya selain muncul kelompok-kelompok radikal, juga muncul kelompok neoliberalisme dan komunisme.

Harus ada tindakan tegas pemerintah dalam menghadapi mereka, akan tetapi karena undang-undang dan aturannya yang lunak, mereka bebas berkeliaran di mana-mana.

”Kader NU siap menghadapi mereka?” tanya As’ad yang langsung dijawab serentak oleh peserta apel, ”Siap.”

Oleh karena itu, dia berharap pemerintah segera merevisi undang-undang itu sehingga dengan cepat bisa menghadapi orang-orang yang akan mengganggu kedaulatan NKRI.

Lebih lanjut, As’ad juga menyatakan, NU selalu hadir tepat waktu. Saat ini NKRI dan Pancasila sedang menghadapi ancaman serius.

Dia mengatakan bahwa ada kelompok yang sibuk mengerek bendera khilafah, menggelar aksi masirah berkedok Panji Rasulullah. Padahal, semua umat Islam paham, bahwa Rasulullah tidak pernah mengibarkan bendera tersebut, selain waktu perang.

Dalam apel kesetiaan tersebut, As’ad bersama Rois Syuriah KH Ubedulloh Shodaqoh dan Ketua Tanfidziyah Abu Hapsin menggunakan mobil jip terbuka memeriksa pasukan. Sementara para peserta tak henti-hentinya meneriakkan yel-yel dan shalawat badar.
Sementara, KH Ubedulloh Shodaqoh dalam orasinya mengingatkan kader NU untuk siap tampil paling depan menjaga kedaulatan NKRI dan ideologi Pancasila.

”NU tidak mau menyakiti orang lain, tetapi sekali disakiti jangan tanya. Kader nahdliyyin akan menghadapinya,” kata Gus Ubed disambut tepuk tangan peserta.

Previous Anies Bagi Sembako jelang pencoblosan
Next BPS Rilis Data Neraca Perdagangan Maret 2017, Nilai Ekspor Indonesia Menggembirakan