Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia mengapresiasi Pererintah Indonesia menurunkan impor beras


Jakarta, BuletinInfo – Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization, FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengapresiasi rangkaian kebijakan sektor pangan Menteri Pertanian Indonesia Andi Amran Sulaiman, guna mengurangi ketergantungan bahan pangan dan teknologi pertanian dari luar negeri.

“Dua tahun terakhir, Indonesia berhasil meningkatkan produksi padi, jagung, dan merevitalisasi infrastruktur pangan, hingga negara terbesar di Asia tenggara ini tak lagi tergantung ekspor beras,” Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste Mark Smulders, seperti dilansir situs resmi FAO, Selasa (1/11/2016).

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik (IP) Kementerian Pertanian

Agung Hendriadi, dalam rilis yang diterima Tribun, awal pekan ini, juga melansir apresiasi Mark Smulders itu yang disampaikan pada pembukaan Pameran Hari Pangan Sedunia (HPS) di Boyolali, Jumat (28/10) di hadapan Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertanian.

Secara khusus, Mark Smulders meminta Mentan untuk merancang program jangka menengah dan panjang, untuk mambangkitkan passionĀ  atau ketertarikan anak muda kepada dunia pertanian.

Menukil data dari BPS dan kementerian pertanian, FAO menyebutkan dalam dua tahun pemerintahan Jokowi-JK, kinerja sektor pangan, mengembalikan Indonesia ke masa swasembada pangamn era 1980 dan 1990-an.

Persediaan beras nasional saat ini sampai dengan Mei 2017 mendatang mampu dicukupi dari produksi sendiri, sehingga tidak ada impor beras di tahun 2016 ini.

Kini stok pangan nasional sudah 1,980 juta ton.

Program Upaya Khusus (UPSUS) Swasembada Pangan yang dikawal mentan sejak akhir 2014, dinilai mampu meraih target produksi dalam waktu singkat. Berdasarkan data BPS (2016) Angka Tetap (ATAP) produksi padi 2015 mencapai 75,4 juta ton GKG, naik 6,42% dibandingkan ATAP tahun 2014.

Kemudian data Pra Angka Ramalan-II produksi padi 2016 mencapai 79,1 juta ton sehingga terjadi peningkatan produks padi sebesar 4,96%.

Bulan Oktober 2016, Indonesia memiliki persediaan stok beras di gudang Bulong mencapai 2,6 juta ton. Produksi padi 2016 ini setara dengan beras 44,3 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi beras hanya 33.3 juta ton.

Dengan demikian, neraca beras mencapai surplus 11,0 juta ton.

Beras ini tersimpan di petani, gudang penggilingan, pedagang, industri, Bulog dan di konsumen.
Survey sucofindo setelah musim kemarau, periode Oktober 2010, menghasilkan data stok di produsen 64,21%, pedagang 24,29% dan konsumen 11,5%. (*)

Previous Agama Dan Politik Harus Dipisahkan Untuk Hindari Konflik Horizontal
Next Singapura Puji Kinerja TNI AL Amankan Selat Malaka