Pemerintah akan cepat tanggap dalam menanggulangi bencana termasuk di Ponorogo


Ponorogo, BuletinInfo – Tim SAR gabungan kembali menemukan satu korban tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Korban ditemukan Pukul 08.30 WIB, tertimbun tanah di Sektor A.

Korban tersebut langsung dievakuasi ke RSUD dr Harjono untuk dilakukan identifikasi tim DVI Polda Jatim.

Komandan Tim Basarnas, Asnawi Suroso, mengatakan, jenazah korban keempat tersebut adalah orang dewasa dan kondisinya membusuk, Minggu (9/4).

“Korban ini posisinya di aliran sungai dan tertimbun longsor. Terkait identitas bukan kewenangan kami, itu nanti akan disampaikan DVI setelah melalui pemeriksaan lebih kanjut,” katanya.

Dia juga mengaku bahwa pihaknya akan kembali mengintensifkan proses pencarian di sekitar lokasi penemuan, karena dimungkinkan masih ada korban lain.

Jumlah korban hilang yang berhasil ditemukan sebanyak empat orang, dengan rincian tiga korban ditemukan di sektor C dan satu korban di sektor A. Sedangkan 24 korban lainnya masih dalam proses pencarian.

Di lain tempat, bencana tanah longsor juga mengancam satu desa lain di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Hal itu setelah muncul retakan tanah di atas bukit di Desa Dayakan, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo.

Pertama kali retakan itu diketahui oleh warga pada Rabu 5 April 2017 lalu, setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.

Kondisi itu berpotensi menimbulkan tanah longsor sepertihalnya yang terjadi di Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, Sumani membenarkan adanya peristiwa itu. Dari laporan yang diterima, retakan tanah yang terjadi di atas bukit hingga pemukiman warga itu, berukuran lebar 1 meter dengan kedalaman 3 meter.
“Benar, saya sudah menerima informasi itu. Kemarin petugas dari BPBD juga sudah melakukan mitigasi dan mengungsikan warga untuk meminimalisir adanya korban jika sewaktu-waktu terjadi longsor,” ungkap Sumani kepada awak media, Sabtu (8/5).

Saat ini, sebanyak 78 Kepala Keluarga (KK) atau 269 jiwa sudah diungsikan petugas BPBD Ponorogo ke lokasi yang aman. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika terjadi longsor akibat retakan tanah itu seperti halnya yang terjadi di Desa Banaran, Kecamatan Pulung.

“Ada 4 titik lokasi pengungsian. Saat ini tenda-tenda pengungsi dan kebutuhan logistik juga sudah kita siapkan,” jelas Sumani saat ditemui di lokasi bencana di Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo.

Selain itu, Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni menyatakan, jika pihaknya juga sudah meminta beberapa peneliti untuk melakukan pengkajian terkait dengan retakan yang muncul di Desa Dayakan, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo.

“Tim peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan peneliti UGM (Universitas Gajah Mada) sudah kita minta untuk melakukan kajian. Sampai saat ini kami masih menunggu hasilnya,” ungkap Ipong.

Dia mengatakan bahwa tim peneliti PVMBG membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk melakukan kajian terkait dengan tingkat kerawanan retakan tanah yang muncul di desa yang terletak di bagian ujung barat Kabupaten Ponorogo itu. Dari hasil itulah, selanjutnya akan dilakukan penanganan lebih lanjut.

“Jika memang hasilnya tidak aman untuk ditempati dan harus dilakukan relokasi, ya itu kita lakukan. Tentunya akan kita sinkronkan dengan regulasinya seperti apa,” tandasnya.

Previous Patok tipe D RI- Malaysia hilang diduga karena jenis patok paling kecil dan tertanam didalam tanah
Next Golkar Usung Paulus Waterpauw Sebagai Calon Gubernur Papua 2018