Penolakan FPI Di Sejumlah Daerah


Terjadi penolakan terhadapan kehadiran Front Pembela Islam (FPI) di beberapa daerah di Indonesia.

Di Nusa Tenggara Timur, Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya dengan tegas menyatakan menolak kehadiran FPI di wilayahnya.

“Kami sudah beberapa kali menggelar rapat dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) untuk menolak kehadiran FPI di seluruh NTT,” kata Frans, Kamis (4/5).

Menurutnya selama ini masyarakat NTT hidup sangat harmonis serta menghormati dan menghargai perbedaan. Karena itu, daerah ini harus bebas dari kelompok-kelompok radikal yang bisa saja merusak tatanan kehidupan masyarakat NTT.

Sebelumnya, ratusan warga dan perwakilan ormas menolak dan menggagalkan pembentukan Front Pembela Islam (FPI) di Kota Semarang, tepatnya di Rumah Zainal Petir di Kelurahan Bulu Lor, Kecamatan Semarang Utara, Kamis malam (13/4).

Bahkan sempat terjadi suasana yang tegang antara masyarakat dan FPI, namun berhasil diantisipasi oleh kepolisian.

Kapolrestabes Semarang Kombes Abiyoso Abi Seno mengatakan bahwa masyarakat resah atas upaya pembentukan FPI di Semarang.

“Saya tidak memihak kepada ormas maupun FPI, namun saya bertindak atas dasar laporan masyarakat yang resah dan tidak setuju adanya FPI di Kota Semarang. Tanpa FPI Semarang sudah damai,” kata Kapolrestabes Semarang.

Penolakan terhadap kehadiran FPI di masyarakat sering terjadi di beberapa tempat di Indonesia, berikut adalah wilayah yang pernah menolak keberadaan FPI:

  1.    Pesawat Sriwijaya yang membawa rombongan FPI, termasuk di dalamnya Habib Rizieq terbang ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada hari Sabtu, 11 Februari 2012, dihadang sekitar 800 orang dari Suku Dayak di Bandara Udara Cilik Riwut Palangkaraya. Massa yang sudah berkumpul sejak pagi hari, dengan memakai ikat kepala merah juga membawa senjata tradisional seperti tombak dan mandau. Saat pesawat mendarat sekitar pukul 10.30 WIB, ratusan orang merangsek masuk ke dalam landasan pesawat (apron) dengan menjebol tiang pagar bandara. Sehingga antara massa dan bagian depan pesawat hanya berjarak sekitar 50 meter. Namun rombongan FPI tidak kunjung keluar sementara para penumpang lainnya sudah keluar semua. Tak lama kemudian, pesawat Sriwijaya itu kembali terbang ke Jakarta sekitar pukul 11.00 tanpa membawa penumpang dari Palangkaraya. Akibatnya ada sekitar 110 penumpang yang telantar.
  2.    Di Padang, Sumatera Barat. Pada 26 November 2013, puluhan warga dari Forum Anak Nagari (Forkan) Padang menggelar aksi penolakan kedatangan Rizieq Shihab, di Bandara Internasional Minangkabau. Rizieq Shihab dinilai hendak memprovakasi masyarakat Padang.
  3.    Demak, di Kota Wali ini, Banser Demak menolak rencana kedatangan Habib Riziq yang hendak mengisi pengajian di Kecamatan Bonang pada 8 Mei 2014. Salah satu alasannya karena Demak merupakan basis ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) yang mayoritas masyarakatnya warga Nahdlatul Ulama (NU). Selain itu, Rizieq Shihab juga dianggap pernah menghina KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, salah satu tokoh sentral NU.
  4.   Tanggal 25 Agustus 2014, kedatangan Rizieq Shihab dan rombongan FPI di Samarinda, Kalimantan Timur, sebagai pembicara dalam Tabligh Akbar dengan tema ‘Menuju NKRI yang Bersyariah’ ditolak Gerakan Pemuda Kalimantan Timur Bersatu (GPKTB). Demo berlangsung kondusif.
  5.    Tulungagung, Jawa Timur, tanggal 28 Oktober 2014, ratusan demonstran bergerak mendekati lokasi seminar yang digelar Front Pembela Islam (FPI) Tulungagung di Gedung Balai Rakyat DPRD. Demo berlangsung kondusif.
  6.    Gara-gara memplesetkan ‘Sampurasun’ menjadi ‘campur racun,’ ribuan warga Purwakarta, Jawa Barat, menggelar aksi menolak kehadiran Rizieq Shihab pada Sabtu 19 Desember 2015. Rizieq dianggap sebagai sosok yang kerap memperkeruh suasana di tengah ketenangan masyarakat Purwakarta. Demo berakhir ricuh.
  7.    Gerakan ‘Banyumas Damai Tanpa FPI ‘ pada 20 Februari 2016, sebanyak 15 organisasi massa di Banyumas menolak rencana deklarasi Front Pembela Islam di Banyumas. Mereka sepakat menolak kedatangan pemimpin FPI dan deklarasi FPI di Banyumas. Demo berlangsung kondusif.
  8.    28 Desember 2016, di Bandara Kualanamu, Medan, ratusan anggota ormas Laskar Merah Putih menolak kedatangan Habib Rizieq yang rencananya ingin mengadakan Tabligh Akbar. Demo berlangsung kondusif.

Contoh-contoh di atas belum termasuk aksi bentrok kecil-kecilan yang banyak terjadi di berbagai daerah. Terutama menjelang dan selama bulan puasa, dimana banyak anggota FPI yang melakukan aksi sweeping ke berbagai tempat. Aksi ini sering meresahkan warga setempat dan tak jarang berujung bentrok.

Banyaknya demo dan penolakan FPI di berbagai tempat di Indonesia menandakan bahwa masyarakat sebetulnya tidak menyukai keberadaan FPI. Selama ini, FPI terkesan arogan dan berbuat semaunya.

Keberadaan FPI dapat menimbulkan munculnya konflik horizontal di masyarakat. Hal itu tentunya akan berbahaya dan dapat membuat situasi yang tidak kondusif pada negara.

Previous Sikap pembubaran HTI di ambil Pemerintah semata-mata dalam rangka merawat dan menjaga keutuhan NKRI
Next 15 Daerah Ini Sudah Menolak Keberadaan FPI