Produk Sawit Indonesia Ternyata Aman Untuk Dikonsumsi


Jakarta, BuletinInfo – Produksi minyak sawit dunia didominasi oleh Indonesia dan Malaysia. Kedua negara ini secara total menghasilkan sekitar 85-90% dari total produksi minyak sawit dunia. Pada saat ini, Indonesia adalah produsen dan eksportir minyak sawit yang terbesar di seluruh dunia.

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi di Manila Minggu (30/4-2017), menjelaskan bahwa akhir-akhir ini hasil kelapa sawit dari Indonesia menerima banyak sekali kampanye hitam. “Contoh terakhir adalah resolusi parlemen Eropa mengenai kelapa sawit yang sangat diskriminatif. Antara Indonesia dan Malaysia kita sudah membentuk apa yang dinamakan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC),” ujar Retno.

Indonesia mengajak negara-negara anggota ASEAN yang menjadi produsen sawit terbesar, terutama Malaysia dan Thailand untuk bersama-sama melawan kampanye hitam terhadap komoditas kelapa sawit.

Dalam pelaksanaan KTT IMT-GT ke-10 di Philippine International Convention Center (PICC) Manila, Filipina, Sabtu 29 April 2017, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa kawasan ini memiliki potensi yang dapat dikembangkan dan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi yang didukung oleh sektor perkebunan di antaranya kelapa sawit.

Maka dalam KTT tersebut, Presiden mengajak Thailand bergabung dengan Indonesia dan Malaysia di dalam konteks CPOPC dan bersama-sama untuk melawan kampanye hitam yang dilakukan oleh berbagai pihak terhadap kelapa sawit.

“Apa yang disampaikan oleh Presiden Jokowi tadi didukung sepenuhnya oleh PM Malaysia. Sebelumnya waktu di KTT ASEAN, PM Malaysia juga sudah sempat menyebut mengenai masalah perlunya kita untuk melawan kampanye hitam terhadap kelapa sawit,” ungkap Retno.

Dalam jangka panjang, permintaan dunia akan minyak sawit menunjukkan kecenderungan meningkat sejalan dengan jumlah populasi dunia yang bertumbuh dan karenanya meningkatkan konsumsi produk-produk dengan bahan baku minyak sawit.

Sawit merupakan komponen penting. Ekspor sawit 12,32% dari total ekspor Indonesia. Pasar Eropa memang penting namun ada potensi pasar lain yang masih besar seperti India dan Pakistan.

Sebenarnya, Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Uni Eropa mengalami peningkatan permintaan, meskipun negara-negara Uni Eropa terus mengkampanyekan bahwa minyak sawit berbahaya untuk kesehatan.

Selama ini minyak sawit selalu dikambinghitamkan sebagai pemicu berbagai masalah di dunia Barat, mulai dari kesehatan hingga lingkungan. Sayangnya, tudingan itu tak disertai fakta atau informasi yang benar.

Padahal, produksi sawit dalam pengolahannya sudah melalui tahapan panjang dan mengikuti standar keamanan makanan yang ketat sebelum dijadikan campuran bahan makanan atau minyak nabati.

Bahkan, berdasarkan uji laboratorium, minyak sawit sudah mendekati nol untuk kadar 3-MCPD dan GE, dimana  kandungan 3-MCPD dan GE ada dalam berbagai jenis minyak dan lemak, tak hanya minyak sawit.

Berdasarkan uji lab, memang benar kandungan dua kontaminan itu tinggi di minyak sawit, tapi setelah dilakukan pengolahan dalam beberapa tahapan, kontaminan itu nyaris lenyap.

Itulah mengapa kemudian minyak sawit banyak dipakai sebagai bahan campuran dalam formulasi bayi. Jadi, dengan ini terbukti bahwa minyak sawit olahan sudah aman, karena digunakan sebagai bahan campuran makanan bayi.

Berbagai penelitian terus dilakukan dan ternyata sawit tak berbahaya bagi kesehatan.

Sebenarnya, pasar ekspor kelapa sawit dinilai masih tetap strategis meski tanpa Uni Eropa. Permintaan sawit di dalam negeri sendiri juga masih cukup tinggi.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit Dono Boestami mengatakan, komoditas kelapa sawit dinilai paling efisien dibanding tanaman penghasil minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai, rapeseed, dan minyak bunga matahari.

Tanaman sawit hanya tumbuh di iklim tropis, tidak bisa tumbuh di Amerika atau Eropa. Kita menguasai 65 juta ton pasokan minyak nabati dunia.

Ketua Dewan Pengawas BPDP Sawit Rusman Heriawan mengatakan, kelapa sawit merupakan komoditi strategis nasional yang berperan bagi ekonomi, pemasukan devisa negara, penyediaan lapangan kerja, dan pengembangan wilayah.

Previous Ditlantas mempersiapkan pengaturan dan rekayasa lalu lintas untuk menciptakan keselamatan, ketertiban, kelancaran lalu lintas saat May Day
Next Kapolri Akan Lakukan Pembubaran Permanen HTI