Produksi Ikan Indonesia Rambah Arab Saudi, Diperkirakan Akan Banyak Tuai Untung


Jakarta – Konsulat Jenderal RI (KJRI) dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Jeddah, Arab Saudi, memproyeksikan produk ikan olahan Indonesia bakal meramaikan pasar Arab Saudi.

Hal itu dikarenakan Delegasi Dagang Indonesia sudah dipertemukan dengan perusahaan Arab Saudi untuk melakukan kontak dagang dengan komoditas utama produk ikan olahan, oleh pihak KJRI dan ITPC Jeddah.
Bahkan, Kepala ITPC Jeddah Gunawan optimistis kontak dagang itu akan berbuah manis.

Lebih lanjut, Delegasi Dagang Indonesia terdiri dari tim manajemen PT Kelola Mina Laut (KML) Food serta Kelompok Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Samentara untuk perusahaan Arab Saudi yang hadir adalah BADIR Global Business Development Co yang merupakan anggota dari Naghi Group.

“PT KML Food merupakan perusahaan Indonesia dengan produk ikan yang telah sukses menembus pasar ekspor tradisional dan berpenetrasi ke pasar nontradisional. Dengan kontak dagang ini diharapkan pangsa pasar produk ikan olahan Indonesia dapat semakin besar di Arab Saudi,” ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (10/3).
PT KML Food beserta anak usahanya, menurut Gunawan, merupakan perusahaan Indonesia dengan kemampuan menghasilkan produk ikan dengan kapasitas lebih dari 135 ribu ton dan mempunyai 48 pabrik pengolahan.

Selain itu, perusahaan tersebut juga telah berhasil menembus pasar ekspor ke Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Jepang, Tiongkok, dan Australia. Selain itu, mereka juga telah melakukan penetrasi pasar ke pasar nontradisional, seperti Rusia, Asia Selatan, Afrika, dan Timur Tengah, termasuk Arab Saudi.

Bahkan saat ini, KML Food dalam sistem produksi menerapkan standar internasional yang dibuktikan dengan telah mendapatkan enam jenis sertifikasi, yaitu Hazard Analysis Critical Control Point (HCCP) Certificated, International Organization For Standardization (ISO Standard), British Retail Consortium (BRC), Best Agriculture Practice (BAP), Custom Trade Partnership Against Terrorism (CTPAT), dan Halal Certificated.

Sedangkan, Naghi Group merupakan perusahaan besar dan terkemuka di Timur Tengah yang bergerak di bidang otomotif, transportasi, dan industri perikanan dan makanan.
Naghi Group sendiri berada di urutan ke-13 dari 50 kelompok bisnis paling berpengaruh di Arab Saudi berdasarkan hasil rilis Forbes.

Sementara, Arabian Business pada 2010 mencatat perkiraan kekayaan keluarga Naghi mencapai US$ 5 miliar atau menempati urutan ke-17 dari 50 keluarga terkaya di Arab Saudi.
Menurut hasil analisis dan kajian yang dilakukan Tim Ekonomi dan Perdagangan (ITPC dan KJRI Jeddah) juga menunjukkan bahwa KML Food sudah hampir memenuhi persyaratan yang harus dipenuhi perusahaan Indonesia untuk masuk pasar Arab Saudi.

Keempat syarat tersebut adalah harga yang kompetitif, mempunyai keamanan pasokan (secure of supply), memenuhi persyaratan standar pelabelan dan pengujian yang dipersyaratkan Saudi Accreditation and Standardization (SASO), persyaratan komposisi produk dari Saudi Food and Drug Authority (SFDA), serta persyaratan produk halal.

“Produk KML Food sudah memenuhi tiga persyaratan standar yang ditetapkan, yaitu persyaratan SASO, SFDA, dan persyaratan produk halal. KML Food harus mampu melakukan negosiasi harga sehingga produk-produk Indonesia ini mampu bersaing di pasar Arab Saudi,” jelas Gunawan.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Konsul Jenderal RI Jeddah M Hery Saripudin yang menyatakan optimistis produk ikan olahan Indonesia sukses di pasar Arab Saudi.

“Kami, KJRI dan ITPC Jeddah, sudah mempertemukan para pengusaha Indonesia dengan pengusaha Arab Saudi untuk menjalin kontak dagang. Kualitas produk olahan ikan Indonesia sangat kompetitif. Diharapkan, pertemuan ini dapat menstimulasi terjadinya transaksi bisnis di Arab Saudi,” tutur dia.

Saat ini, potensi ekspor perikanan Indonesia dapat dilihat dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang mencatat produksi ikan tangkap Indonesia pada akhir 2015 mencapai 6 juta ton. Pada akhir 2016 diperkirakan mencapai 7 juta ton atau tumbuh 16,7 persen.

“Dengan demikian potensi ekspor ikan tangkap Indonesia cukup besar,” ungkap Hery.

Terlebih lagi, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pada Oktober 2016 komoditas makanan dan minuman Indonesia yang masuk pasar Arab Saudi tumbuh positif sebesar 6,2 persen. Komoditas perikanan dan produk ikan juga tumbuh positif sebesar 2,88 persen dan secara year on year tumbuh positif 195,35 persen.

Previous Budi Waseso: Kehancuran Indonesia Di Ambang Batas Jika Narkoba Tidak Diberantas
Next Dinilai Bermuatan Politis, Usulan Hak Angket E-KTP Fahri Hamzah Mendapatkan Banyak Penolakan

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *