Raja Salman: Fenomena Terorisme Dan Radikalisme Sebuah Tantangan Baru Negara


Jakarta – Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud atau biasa dikenal dengan panggilan Raja Salman, melakukan kunjungan ke DPR untuk memberikan pidato pada Kamis (2/3), yang merupakan salah satu bentuk kegiatannya dalam kunjungannya ke Indonesia.

Dalam pidatonya Raja Salman membicarakan banyak hal dari mulai hubungan antara Indonesia dan Arab Saudi, sampai membahas bahaya dari terorisme dan radikalisme.

“Izinkan saya untuk mengawali sambutan saya ini dengan menyampaikan penghargaan kami yang setinggi-tingginya kepada pemerintah dan rakyat Indonesia yang bersahabat, atas keberadaan saya bersama para hadirin sekalian,” ujar Raja Salman di ruang sidang paripurna, gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta

Selain itu, dia juga menyatakan bahwa di era sekarang, saat ini negara sedang menghadapi ancaman yang cukup kompleks dari terorisme dan radikalisme.

“Sesungguhnya tantangan yang kita hadapi khususnya bagi umat Islam dan dunia secara umum, seperti fenomena terorisme, benturan peradaban, (the clash of civilizations), tidak adanya penghormatan terhadap kedaulatan negara serta melakukan intervensi terhadap urusan dalam negerinya telah mengharuskan kita untuk menyatukan barisan dalam menghadapi tantangan ini serta melakukan koordinasi dalam melakukan berbagai upaya dan sikap yang dapat memberikan manfaat bagi kepentingan kita bersama serta keamanan dan perdamaian dunia.” jelasnya.

Keberadaan terorisme dan radikalisme selama ini memang merupakan ancaman tersendiri terutama bagi negara-negara Timur Tengah dan negara mayoritas Islam seperti Indonesia.

Saat ini, sudah banyak negara-negara yang hancur akibat ulah terorisme dan radikalisme, seperti Suriah, Afghanistan, dll.

Hal itu tentulah sangat menghawatirkan, karena di Indonesia dan Arab Saudi sendiri memang benih-benih paham radikalisme sudah mulai banyak menyebar di masyarakat. Bahkan salah satu teroris yang terkenal di dunia yaitu Osama Bin Laden berasal dari Arab Saudi.

Di Indonesia sendiri bibit-bibit radikalisme mulai terasa jelas, orang-orang yang telah terdokrinasi dengan paham-paham radikal melakukan aksi-aksi radikal seperti melakukan pemboman, melakukan pengerusakan terhadap tempat ibadah agama lain, mengajak umat Islam dalam pengerahan massa untuk memaksakan kehendaknya seperti yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI).

Upaya FPI dalam melakukan pergerakan massa secara besar-besaran juga diduga sebagai bentuk upaya mereka atau salah satu di antara mereka untuk melakukan makar atau tidak mengakui kedaulatan negara.

Ketua FPI Habib Rizieq Shihab beberapa kali menghina Pancasila yang merupakan ideologi bangsa Indonesia.

Selain itu, mereka juga menyerang oposisi mereka dengan menggunakan isu SARA dan menggunakan isu agama dalam berpolitik.

Keberadaan paham-paham radikal seperti ini tentunya berbahaya dan perlu dilakukan pencegahan dini agar nantinya Indonesia karena mengganggu kestabilitasan negara.

Bahkan sekarang, akibat maraknya isu SARA dan agama yang sering dilontarkan oleh kelompok radikal, keharmonisan agama dan suku di Indonesia mulai terganggu dan renggang.

Radikalisme dan terorisme harus dapat diberantas di Indonesia, agar tidak mengalami nasib yang serupa dengan Suriah dan Afghanistan.

Previous Raja Arab Saudi mencari Cucu Presiden Pertama RI Soekarno
Next Raja Salman Ingatkan dunia bahwa Terorisme, Benturan Peradaban,& Tidak Adanya Penghormatan Kedaulatan Negara menjadi Tantangan Bersama

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *