Sandiaga Mangkir Dan Minta Kasusnya Diproses Setelah 15 April


Pihak Sandiaga memastikan tidak akan memenuhi panggilan penyidik Polda Metro Jaya karena menjalani tahapan kampanye hingga 15 April 2017 untuk pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta putaran kedua.

Terkait hal itu, Polda Metro Jaya meminta calon wakil gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno kooperatif terkait tindak pidana penggelapan yang dituduhkan kepadanya.
Hal itu disampaikan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono yang mengatakan, penyelidik terpaksa menjadwalkan ulang pemeriksaan Sandiaga.

Seharusnya sebagai tokoh publik, menurut Argo, Sandiaga harus menunjukkan perilaku taat hukum.

“Kalau tidak datang, kami akan jadwalkan ulang. Kami berharap, sebagai warga negara yang baik, dia hadir dan memberikan contoh yang baik,” kata Argo.

Dia mengatakan bahwa pihaknya akan mengusut laporan terhadap Sandiaga berdasarkan bukti hukum.

Selain itu, dia juga menekankan bahwa Polda Metro Jaya tidak memiliki motif politik di balik perkara tersebut.

“Kami ingin klarifikasi seperti apa kejadiannya. Kalau masuk ranah pidana, pengusutan akan naik ke penyidikan. Saat ini kami masih menyelidiki,” tuturnya.

Selasa (21/3) pagi, Sandiaga meminta kepolisian memeriksanya usai Pilkada DKI Jakarta berakhir. Ia beralasan, bahwa jadwalnya kini tersita agenda kampanye yang sudah diagendakan hingga 15 April mendatang.

“Saya meminta penundaan sampai tanggal 19 April,” kata Sandiaga.
Seperti yang diketahui, bahwa Sandiaga dilaporkan terkait penggelapan pada jual-beli lahan di Jalan Raya Curug, Tangerang Selatan. Pelapor kasus itu adalah Djoni Hidayat.

Djoni tercatat memegang jabatan di manajemen PT Japirex. Ia mempunyai tanah seluas tiga ribu meter persegi di belakang tanah enam hektar PT Japirex yang dijual Sandiaga.

Pada 2012, Sandiaga dan rekan bisnisnya, Andreas Tjahyadi, mendorong Djoni untuk turut menjual tanah tiga ribu meter persegi miliknya. Atas iming-iming keuntungan, Djoni menerima tawaran Sandiaga.

Dalam laporannya kepada polisi bernomor LP/1151/III/2017/PMJ/Dit Reskrimum, Djoni mengklaim tanah dengan total luas sembilan ribu meter persegi itu akhirnya laku Rp12 miliar. Persoalan muncul karena Djoni merasa tidak mendapatkan seluruh keuntungan yang dijanjikan Sandiaga.

Belakangan diketahui, tanah tiga ribu meter persegi yang dikelola Djoni itu adalah aset mendiang Happy Soeryadjaya, istri pertama Edward Soeryadjaya, petinggi PT Astra International Tbk.

Previous Sandiaga Dilaporkan Kembali Ke Bawaslu Terkait Kampanye Hitam
Next Gusdur: "Tidak Penting apapun suku dan agamamu kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu"