SBY: Ferdinand apa yang telah kau perbuat? Pusing aku!!!


Jakarta, buletinInfo – Demokrat akhir- akhir ini, semakin meradang disertai dengan kegalauaan tak ujung henti, lantaran membela bosnya si Beye, yang mendapat kecaman banyak pihak terhadap statement. Menengok portal demokrat.or.id yang konsisten akhir- akhir ini menyudutkan pemerintahan Jokowi. Ferdinand Hutahaean, komunikator partai demokrat ini pun, terus memainkan penanya dan pikirannya untuk menyudutkan pemerintah Jokowi. Bukan main, Ferdinand Hutahaean menulis, ” Waspada Rezim Sesat Pikir, Jaga Jarak Aman, Nalar Anda”. Sebelumnya saya ingin menguliti argumentasi Ferdinand yang menggelit ini, pada tulisan berikutnya nanti. Dengan membaca, dari kata perkata, kalimat perkalimat dan alinea peralinea, agar sesat nalar yang dituduhkan itu, bisa kebalikan dari premis ataupun mau mengatakan bahwa SBY dan Demokrat yang sesat nalar sesungguhnya (content isinya).

Jujur, ketika saya membaca portal demokrat.or id itu, banyak tulisan yang tendensi menuduh Pemerintahan Jokowi salah, sesat pikir. Ada nuansa kegalauan demokrat yang berujung pada merananya SBY. Nuansa yang disampaikan secara emosional ini, sungguh mengganggu nalar publik, bawasannya demokrat yang tidak pernah introspeksi diri, kala SBY berkuasa 10 tahun menjadi presiden.

Kegalauaan demokrat ini, tergambar jelas, gelagaknya maupun pernyataanya di media yang selalu di mata mereka Rezim pemerintah Jokowi sesat. Dan merananya SBY, yang mendapat banyak respon publik, baik kalangan intelektual maupun masyarakat luas, saat pertemuaan SBY dan Prabowo dibarengi dengan konfrensi pers keduanya, terutama SBY yang sudah menunjukkan sikap merananya itu ke pemerintahan Jokowi.

Sikap galau dan merana, memang manusiawi. Seyogyanya demokrat dan SBY kumpulan manusiawi yang dirana kegalauaan dan merana. Sikap itu, bukan tanpa sebab dirasakan, tetapi lebih kepada haus kekuasaan, post power syndrome, tidak bisa menerima kenyataan berkuasa 10 tahun itu. Kekusaan 10 rahun belum cukup, untuk menampung pundi-pundi kantong, dan selakyaknya harus dilestarikan. Itu esensi sikap galaunya demokrat dan merananya SBY.

Ada adagium bijak mengatakan, Mea mihi constientia pluris est quam omnium sermo ( Hati nurani saya lebih bernilai daripada semua khotbah. Cicero. Saya menyakini, kalau demokrat dan SBY adagium bijak ini, maka tidak terkena dengan virus akut kekuasaan. Dengan melabelkan politik santun sebagai senjata. Jikalau adagium bijak Cicero ini diindahkan maka, muncul adagium bijak baru, “Ius Suum Cuique Tribuearae” (Berikan Keadilan bagi semua orang yang berhak). Maka di sinilah letak keadilannya, di negara yang demokratis ini. Dengan sendiri, akut kekusaan akan hilang, dan itulah demokrasi, kekuasaan tidak sampai mati, ada periodisasi regenerasi kekuasaan yang dijalankan lewat jalur demokrasi.

Kalau adagium bijak di atas tidak diindahkan maka terjadilah apa yang dikatakan Cicero di bawah ini: Nervous belli pecuniam.(Nervos rerum): Saraf perang uang, uang adalah saraf perang. Cicero. Apakah seperti cara kita berdemokrasi? Apakah itu yang dilakukan selama 10 tahun berkuasa? Percikan suara publik, yang mengecam SBY di media sosial, itu sekelumit kecil masyarakat di Indonesia yang merasakan 10 tahun itu. Apalagi mau ingin berkuasa lagi, dan ingin bernyanyi di atas genderang orang lain.

Maka tidak ada cara lain, kami sebagai masyarakat, lebih baik gunakan adagium Cicero, Nullum magnum ingenium sine mixtura dementiae:  Tak ada kejeniusan tercampur dengan “kegilaan”. Untuk itu, saya akan menjelaskan itu, dengan “kegilaan” menghadap orang yang sedang galau dan merana.

Dialektika di ruang hampa, dengan memanis-maniskan kata dan kalimat, sekali- kali kita sebagai publik menanggapinya dengan “kegilaan” Kata kata manis atau bumbu kepentungan politik dilontarkan di ruang publik, apalagi yang mengatakan itu, seorang tokoh yang dikenal banyak orang. Dan itu sepertinya sindrom bagi setiap orang yang ingin berkuasa, ingin terluhat paling kuat, terlihat oaling  hebat. Tidak pernah perangi itu dengan gagasan dan kekreatifan untuk membangun bangsa dengan nalar yang sehat.

Dengan kebanyakan tokoh mengaggung-agungkan atau sindrom dengan jabatan, status mereka.Tokoh-tokoh yang sindrom dengan kemewahan atau tampuk kekuasaan, saat mereka turun mereka masih terbawa ingatan masa kejayaan mereka dulu, sehingga lupa diri bahkan komentar ‘tidak tau diri’.

Bahkan mereka berbagai cara ingin menjatuhkan seseorang dengan konsep by design besar besaran untuk menjatuhkan lawan politik. Bahkan, mungkin karena dendam politik pun terjadi.

Dan itu, kian radiks ada dalam diri setiap orang yang kangen saat mereka berkuasa. Ini seperti modus curhat melempias kegalauan mereka di depan publik.

John W. Watshon (1878-1958), seorang ilmuwan Komunikasi dan dijuluki bapak Behaviorisme di Amerika mengatakan, semua prilaku, termasuk tindakan balasan atau dikenal dengan respon diakibatkan dari adanya ransangan stimulus.

Mereka lupa kata regenerasi atau periodesasi regenerasi bahkan, tidak pernah introspeksi diri bagaimana saya waktu itu, saat menjabat baik Presiden, DPR atau Gubernur  yang begitu melejat dengan kekuasaan mereka yang lalu, saat mereka tidak berkuasa lagi, mereka lantang mengkritik pemerintahan yang berlangsung dengan berlabelkan membawa keadilan rakyat.

Ironisnya, mereka duduk pemerintahan mereka kebanyakan diam bahkan mungkin, ikut andil dalam tindakan merugikan masyarakat, seperti, korupsi maupun aspirasi publik yang tidak ditepatinya.

Ternyata lakon itu sedang dimainkan demokrat dan SBY yang begitu getol dan konsisten memang. Maksudnya SBY yang mengkritik Kepemerintahan Jokowi yang sindrom dengan kekuasaan. Bukan direspon positif oleh masyarakat, malah menjadi duri bagi SBY.

Demokrat dan SBY sepertinya galau dan merana. Sebagai oposisi, Partai Demokrat harus mengkritik. Namun, kritik sebaiknya konseptual supaya ada efek edukatif bagi publik.

Kebanyakan tokoh kita, merasa diri yang paling benar, paling hebat dan paling mengetahui segalanya. Yah kalau diumpamakan seperti Omnivora saja (pemakan segala) ataukah inilah yang digambarkan kaum Leviatan mederat?

Leviatan adalah monster air besar dan kejam yang disebut dalam buku Alkitab. Penyebutan Leviatan dapat ditemukan dalam kitab Ayub, Mazmur dann Yesaya,  ditambah dengan beberapa doa tradisional  Yahudi dalam penyebutan sebagai naga berkepala tujuh.

Dalam mitologi Ugarit Baal Hadad berkelahi dengan Lotan dan berhasil membunuhnya. Ini dikisahkan sebagai penghacur dan perusak.

Apakah Leviatan moderat masih tergambar jelas sekarang ini? Silahkan jawab

Atau seperti yang digambarkan dalam Al-quran:
“Dan Dia (Allah) telah menciptakan kuda, bagal, keledai agar kamu menungganginya (dan menjadikannya perhiasan). Dan Allah juga menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. An-Nahl: 8)

“Diantara tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan langit dan bumi, dan makhluk-makhluk yang melata yang disebarkan pada keduanya (langit dan bumi) dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendakiNya.” (QS. Asy-syura: 29)

“Dan kepada Allah sajalah bersujud segala makhluk melata yang  berada di langit dan semua makhluk melata yang ada di bumi dan juga para malaikat. Sedangkan mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.” (QS. An-Nahl: 49)

Apakah, naga hari ini masih tergambar jelas, dalam kehidupan di bumi Indinesia. Wallahuala

Previous Polda Metro Jaya: Bripka Yusmin Tidak Terlibat Kasus Penyiraman Novel
Next Ferdinand Hutahaean Ternyata Merupakan Kutu Loncat