Sejumlah mahasiswa dan dosen di NTT terindikasi ikut kelompok radikalisme, Waspada!!!


Kupang, Buletin.Info – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) NTT Sesilia Sona mengatakan bahwa ada beberapa universitas di Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga mempunyai mahasiswa atau dosen tergabung dengan kelompok radikalisme.

“Kalau untuk indikasi adanya mahasiswa di NTT yang bergabung dengan kelompok radikalisme itu, ada,” katanya kepada wartawan di Kupang, baru-baru ini.

 Hal ini disampaikan usai dilaksanakannya dialog pelibatan lembaga dakwah kampus dan birokrasi kampus dalam pencegahan terorisme dalam program Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Goes to Campus.

Ia mengatakan walaupun ada beberapa universitas yang mahasiswanya tergabung dalam kelompok radikalisme itu, namun hal tersebut belum terlalu mengkhawatirkan.

 Namun menurutnya antisipasi terus dilaksanakan sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang dapat menganggu keamanan dan kerukunan umat beragama di Kota Kupang, khususnya di seluruh wilayah NTT.

“Orang-orang yang bergabung dengan kelompok radikalisme itu memang tidak menamakan diri mereka sebagai lembaga dakwah kampus namun hal itu ada. Dan kita sudah deteksi lebih dini sejauh ini,” tuturnya.

Tetapi ketika ditanya terkait kampus mana saja, Sesilia engan untuk menyebutkan nama universitas tersebut sebab masih dalam pemantauan. Lebih lanjut ia mengatakan program Goes To Campus tersebut memang sengaja digelar karena memang universitas sejauh ini selalu menjadi lokasi masuknya paham-paham radikalisme.

Pengalaman terakhir adalah munculnya video yang menunjukkan sejumlah mahasiswa dari beberapa kampus menyeruhkan Khilafah yang sangat bertentangan dengan Pancasila.

Ia pun berharap agar dengan adanya dialog bersama dengan 130 mahasiswa dari sejumlah kampus di kota Kupang itu akan terbentuk sebuah forum yang nantinya menjadi pererat kebhinekaan di antara mahasiswa di universitas dalam rangka menolak berbagai paham radikalisme yang masuk ke universitas.

“Kalau dari pemerintah pusat meminta agar dibentuk sebuah lembaga dakwah. Namun kita justru ingin agar namanya forum atau lembaga itu sesuai dengan kearifan lokal daerah NTT,” ujarnya.

Sesilia juga menambahkan usai dialog tersebut akan ada pertemuan dengan sejumlah perwakilan setiap kampus untuk membahas soal hal tersebut.

Sementara itu Rektor Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang Pater Philipus Tule, SVD mengatakan bahwa dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu di Denpasar, Bali, sudah ada penekanan dari Jokowi soal larangan paham radikalisme masuk ke universitas-universitas.

“Sejujurnya Unwira sendiri tak memiliki mahasiswa atau dosen yang terlibat dengan paham radikalisme tersebut,” tuturnya.

Ia pun mengaku memberikan sanksi tegas jika memang kedapatan mahasiswa atau dosen yang masuk dan bergabung dengan paham tersebut.

Untuk menangkal paham radikalimse di Unwira pihaknya bekerja sama dengan Korem 161/Wirasakti Kupang untuk memberikan pemahamanan soal nilai-nlai Pancasila sehingga rasa cinta Tanah Air semakin ditingkatkan.

(sus)

Previous UU Ormas benteng Pemerintah menjaga keutuhan NKRI
Next Panglima TNI ingatkan prajuritnya untuk tidak ada yang berpihak pada salah satu calon peserta pilkada