Seorang Warga Dipaksa TTD Akan Pilih Anies Sandi Jika Mau Jenazah Ibu Mertua Disholatkan


Demi untuk memenangkan Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta pasangan calon (Paslon) no 3 Anies Sandi melakukan berbagai hal.

Awalnya mereka memasang spanduk yang menyatakan larangan untuk menyolatkan jenazah pendukung paslon penista agama yaitu no 2 Ahok Djarot.

Sampai akhirnya hal tersebut benar-benar dilakukan. Salah satu korbannya adalah ibu mertua dari Yoyo Sudaryo, yang jenazahnya tidak mau disholatkan karena dianggap pendukung paslon no 2.

Jenazah Siti Rohbaniah (80) ibu mertua Yoyo ditolak untuk dishalatkan di salah satu masjid di Pondok Pinang, Jakarta.

Bahkan yang paling parahnya, dia dipaksa untuk menandatangani surat bermaterai bahwa dirinya akan mencoblos Anies Sandi, jika ibu mertuanya tersebut mau disholatkan.

Anies Sandi demi untuk memenuhi hasrat untuk mendapatkan posisi orang no 1 dan 2 di DKI Jakarta rela melakukan perbuatan yang sangat nista ini.

Mereka menggunakan tameng agama agar kepentingan politiknya terpenuhi.

Mungkin hal ini dikarenakan mereka merasa bahwa dirinya tidak akan menang melawan paslon 2 jika tidak menggunakan ini.

Memang, jika dibandingkan dengan program-program paslon no 2, program yang dimiliki paslon Anies Sandi masih kalah bagus.

Terlebih lagi, paslon no 2 merupakan pertahana dan kinerjanya sangat bagus, bahkan 70 persen lebih warga Jakarta sangat puas akan kinerja Ahok Djarot selama ini.

Hal itulah yang membuat paslon Anies Sandi akhirnya menggunakan cara-cara yang kotor seperti ini untuk memenangkan pilgub DKI.

Bahkan sampai jenazah pun, dijadikan alat bargaining untuk mendapatkan suara pada pemilihan putaran kedua.

Mereka memaksa orang yang sebetulnya tidak mau untuk memilihnya untuk memilihnya, dengan mengancam tidak akan mensholatkan jenazah dirinya dan kerabatnya jika tidak memilih mereka.

Warga muslim Jakarta tentunya akan tersandera dengan ancaman ini, sehingga akhirnya terpaksa memilih mereka, walaupun tadinya tidak ingin memilih paslon no 3.

Tindakan ini tentunya sangatlah tidak etis dan demokratis, karena merupakan bentuk pemaksaan kehendak.

Indonesia merupakan negara demokratis, di mana warganya bebas menyalurkan suara dan aspirasinya tanpa ada paksaan sama sekali.

Warga muslim juga harusnya tidak takut dengan ancaman ini, karena layaknya tindakan politik uang atau serangan fajar dalam pilkada, di mana ada selogan ambil uangnya coblos yang beda, kita juga dapat melakukan hal yang sama dalam hal ini.

Jika memang mereka mengancam tidak mau mensholatkan jika kita tidak memilih Anies Sandi, tanda tangan saja bahwa kita akan memilih Anies Sandi.

Namun waktu pemilihan, kita tidak usah mencoblosnya kalau tidak sesuai dengan hati nurani kita. Toh mereka tidak akan tahu ini, toh nyatanya hanya tuhan dan kita yang tahu ketika kita mencoblos.

Previous Pembunuh Kim Jong Nam Diduga Pernah Kerja Di Kedubes Di Indonesia
Next Pemprov DKI Copot 147 Spanduk Penolakan Menyolati Jenazah