Stop Gunakan Isu Sara memasuki tahun politik karena dapat ciptakan perpecahan


Jakarta, BuletinInfo – Partai politik dan bakal calon kepala daerah diminta bersikap dewasa dengan meninggalkan isu Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA). Sebab, isu itu bisa memicu perpecahan.

“Calon kepala daerah harus mendinginkan suasana. Sebab, memasuki tahun politik dikhawatirkan ada upaya memecah belah persatuan dan kerukunan untuk meraih kekuasaan politik,” kata Ketua Umum Gerakan Kerukunan Bangsa, Haryo Tienmar dalam keterangan tertulisnya, Senin 30 Oktober 2017.

Haryo mengatakan, Presiden pertama RI Soekarno bersama para pejuang telah berjuang menghapus sekat SARA dan menyatukannya dalam Indonesia.  “Soekarno berkata, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Setelah 1908 disadari pentingnya perjuangan menghapus sekat kesukuan, agama, ras, dan antaragolongan. Tentunya di era sekarang ini semangat 1908 masih relevan,” ujarnya.

Seperti diketahui, pada 2018 akan digelar Pilkada secara serentak di 171 daerah dan pada 2019 akan dilaksanakan Pileg dan Pilpres. Berbagai strategi politik mulai dimainkan untuk mendapatkan dukungan.

“Janganlah demi meraih tujuan politik, kemudian mengangkat sentimen SARA. Kompetisi memperebutkan kekuasan harus dengan cara yang benar, mengedepankan keberagaman dan adu gagasan,” kata Haryo.

Haryo mengungkapkan, GKB akan aktif berpartisipasi dalam proses demokrasi lima tahunan itu. “Sebagai warga negara yang baik, berpartisipasi dalam pilkada dan pemilu merupakan keharusan. Karena saat ini cara seperti itulah yang bangsa ini pilih dalam menentukan pemimpinnya,” tegasnya.

Haryo menegaskan, GKB mendukung program nawacita Presiden Joko Widodo yang gencar membangun infrastruktur seperti jalan, jembatan, bandara, pelabuhan laut untuk memperlancar jalur distribusi dan meningkatkan investasi.

Previous Kementerian ESDM : Pengembangan Sektor EBT Naik Signifikan Dalam 3 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK
Next Padat Karya Tunai menjadi Solusi Jokowi perkuat daya beli