Target 2018, Rel KA di Jalur Trans Sulawesi Akan Terbangun Sepanjang 47 Km


Makassar, BuletinInfo.com –  Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, sejak mulai dikerjakan pada tahun 2014,  pembangunan jalur ruas Sulawesi Selatan yang menghubungkan Makassar hingga ke Kota Parepare sudah terealisasi 16 Km.

Pembangunan proyek rel kereta api trans Sulawesi memang lamban. Sebab, investasi yang dibutuhkan sangat besar. Nilainya mencapai Rp 9 triliun untuk membangun rel kereta sepanjang 147 kilometer.

“Jadi kira-kira Rp 5 triliun dari pemerintah dan Rp 4 triliun dari KPBU (Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha),” kata Menhub saat mengunjungi pembangunan rel kereta di Kelurahan Mangkoso Kecamatan Soppeng Riaja Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, Jumat (27/10).

Menurut Menhub, selain anggaran, proyek ini juga terkendala pembebasan lahan. “Tapi kita target akhir 2018 tuntas 47 kilometer yang dibangun,” katanya. Untuk itu pemerintah akan menyiapkan dokumen tender dalam tiga bulan. Selanjutnya tender dibuka pada Februari 2018. Sebab, kata dia, jika hanya melalui dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah itu tidak akan mencukupi untuk seluruh proyek infrastruktur. “Sejumlah perusahaan sudah ada yang berminat tapi kita belum buka tender.”

Saat ini, kata Budi, pemerintah telah menyiapkan alokasi anggaran senilai Rp 2 triliun dengan rincian Rp 1,4 triliun tahun 2017 dan Rp 600 miliar tahun 2018. “Dana itu untuk pembebasan lahan dan konstruksi.”
Ia menargetkan pemerintah bisa menyelesaikan prasarana sepanjang 47 kilometer dalam jangka waktu dua tahun hingga ke Pelabuhan Garongkong. Recananya rel kereta sepanjang 47 kilometer itu akan dioperasikan untuk mengangkut logistik. “Kami berharap ini bisa menjadi daya tarik pihak swasta.”

Proyek rel kereta api trans-Sulawesi tersebut bakal menghubungkan Kota Parepare-Kota Makassar. Namun untuk tahap awal diprioritaskan pembangunan landasan rel di lahan sepanjang 30 kilometer.

Menhub  menjelaskan, dengan keberadaan proyek tersebut, maka pemerintah sudah punya satu model kereta api yang dikerjakan oleh swasta. Hal ini juga dinilai bisa menjadi contoh untuk daerah lain agar tidak lagi bergantung pada APBN untuk proyek perkereta-apian.

“Dengan kekuatan ekonomi dari transportasi kereta api itu sendiri, oleh restu pemerintah tentunya akan terus dikembangkan agar bisa menjadi jalur kereta trans Sulawesi,” ujarnya.

Proyek ini sebelumnya disindir Presiden Joko Widodo (Jokowi) lantaran sudah tiga kali groundbreaking namun tidak menunjukkan kemajuan yang berarti.

Saat itu Jokowi ingin memastikan semua proyek berjalan mulus sehingga perlu dicek berkali-kali. “Saya enggak mau dibohongi itu, negara ini negara besar, Sabang Merauke, (pejabat) mikirnya setelah groundbreaking (saya) enggak ke situ. Satu proyek bisa 4,6,8 kali (kunjungi). Ingin pastikan proyek ada progres jalan,” ucap Jokowi  saat menutup Rembuk Nasional 2017 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Senin (23/10/2017)

Jokowi memang intens mengunjungi proyek, maka pastilah menteri dan pejabat di bawahnya akan memastikan proyek bisa berjalan maju sebelum dirinya tiba.

“Saya awasi benar, saya ikuti betul prosesnya, saya datang ke satu tempat bisa 4 sampai 6 kali. Kenapa? Karena dalam manajemen, kalau tidak ada pengawasan dan kontrol enggak jadi. Saya datang 2 kali, Pak Menteri datang 4 kali, Dirjen 8 kali. Iya dong, saya mau datang, pasti menterinya cek (dulu) sudah siap apa belum. Dirjennya tengak-tengok lebih banyak,” tegasnya.

Kegelisahan Jokowi terhadap lambannya progres pembangunan proyek mesti ditanggapi positif karena menunjukkan bahwa pemerintah pusat menaruh perhatian besar agar proyek dapat segera rampung dan memberi manfaat bagi masyarakat setempat.

Previous Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian: Selama Terjadi Konflik di Dunia Islam, Masalah Terorisme Tak Akan Selesai
Next Tiga tahun pemerintahan Jokowi, lima proyek lapangan migas telah beroperasi