Tiga Isu Bohong Serang Pemerintah, Masyarakat Harus Bijak Lawan Berita Hoax


Jakarta, BuletinInfo.com – Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki menyatakan pemerintah setidaknya diserang tiga isu buatan selama ini. Ketiga isu itu adalah anti-Islam, antek China, dan pro-PKI.

“Tiga itu, saya lihat, diarahkan ke Istana Kepresidenan, ke pemerintah,” ujar Teten di kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (30/5).

Selam beberapa bulan terakhir, menurutnya, ketiga isu tersebut memang kerap dialamatkan ke pemerintah.

Isu anti-Islam contohnya, isu tersebut dilayangkan ketika pemerintah dituding melindungi mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam kasus penistaan agama.

Padahal kasus tersebut berjalan dengan lancar tanpa adanya perlindungan apa-apa terhadap Ahok. Bahkan, saat ini Ahok sudah divonis 2 tahun penjara dan sedang melakukan banding.

Isu pro-PKI pun juga masih kerap muncul. Bahkan salah satu ustadz di Jawa Timur, Alfian Tanjung, beberapa kali menyebut pemerintah kerap menggelar rapat PKI di Istana Kepresidenan tiap malam. Selain itu, dia juga menuding Teten Masduki sebagai koordinator rapat itu. Atas perbuatannya yang dianggap termasuk ujaran kebencian, Alfian ditetapkan sebagai tersangka.

Karena itulah, Teten meminta agar tiga isu tersebut tidak disebarluaskan lagi.

Dia menjelaskan bahwa ketiga isu tersebut sudah mubazir dan tidak produktif.

“Daripada menyebar isu, lebih baik kritik program, kritik kinerja pemerintah. Itu ada gunanya untuk melecut pemerintah supaya lebih produktif untuk membangun kesejahteraan masyarakat,” tutur dia.

Isu partai komunis juga dilayangkan kepada PDIP. Karena itulah, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hasto Kristiyanto menyatakan bantahannya.

“Kami bukan partai komunis, tak berhaluan kiri atau kanan, melainkan pendekar bangsa,” ucapnya.

Adapun Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan kepolisian menetapkan Alfian Tanjung sebagai tersangka dalam dugaan penyebaran ujaran kebencian. Martinus juga mengatakan Alfian resmi ditahan pada 30 Mei 2017.

Dia dilaporkan karena menuduh sebagian anggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan adalah kader PKI. Tuduhan tersebut disampaikan dalam sebuah ceramah di Masjid Jami Said, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Sabtu, Oktober 2016. Video ceramahnya itu menjadi viral di media sosial.

Salah satu kutipan Alfian Tanjung dalam video itu berbunyi, “Mereka sudah menguasai Istana, hampir sebulan ini tak ada lagi konsultan tentara. Rapat-rapat di istana negara sekarang ini dipimpin oleh orang yang namanya Teten Masduki, Urip Supriyanto, Budiman Sudjatmiko, Waluyo Jati, Nezar Patria, dan sederet kader-kader PKI, yang mereka menjadikan istana tempat rapat rutin mereka tiap hari kerja di atas jam delapan malam ke atas. Keren ya, jadi istana negara sekarang jadi sarangnya PKI sejak bulan Mei 2016.”

Selain itu, Alfian Tanjung juga dilaporkan Sujatmiko, seorang warga Surabaya, Jawa Timur karena memberikan ceramah dengan materi tentang PKI. Martinus mengatakan penahanan Alfian dilakukan atas kasus yang menjeratnya di Surabaya. Kepolisian menilai penyampaian Alfian Tanjung mengarah pada menebar kebencian dan melanggar penghapusan diskriminasi ras dan etnis.

Ketiga isu ini merupakan suatu hal yang kontraproduktif karena tidak memberikan kontribusi terhadap peningkatan pencapaian program pemerintah.

Terlebih lagi, saat ini pemerintah sedang melakukan pembangunan secara besar-besaran guna mempercepat kemajuan Indonesia.

Isu-isu kontraproduktif ini justru akan menghambat pembangunan Indonesia karena nantinya akan membuat fokus pemerintah terpecah.

Previous KPPU mengendus praktik kartel bawang putih
Next Ketum GP Ansor: FPI Akan Berhadapan Dengan Aparat Dan Masyarakat, Jika Tutup Bandara