Tindakan Eep Gunakan Isu SARA Sebagai Alat Propaganda Politik Mencederai Demokrasi


Isu SARA kembali digunakan juru kampanye pasangan calon (paslon) no 3 untuk menjatuhkan elektabilitas Basuki Tjahajah Purnama (Ahok). Kali ini dilakukan oleh Eep Saefulloh Fatah yang dalam sebuah video mengatakan bahwa umat Islam harus memilih muslim dalam pilkada DKI Jakarta.

Video tersebut secara mengejutkan dan terang-terangan menyebut masjid sebagai tempat kampanye untuk meraih kemenangan  politik. (tentunya kemenangan Anies Baswedan- Sandiaga Uno).

Seperti yang diketahui bahwa Eep Saefulloh Fatah merupakan konsultan politik pasangan Anies-Sandi yang diusung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera(PKS).

Dalam ceramahnya di video tersebut, Eep menyampaikan contoh kemenangan Partai FIS/Partai Front Keselamatan Islam (al-jabhah al-islamiyah lil-inqadh) di Aljazair yang  telah berhasil memenangkan pemilu dengan mengunakan  masjid sebagai alat politisasi.

Atas kemenangan tersebut, Eep agaknya  ingin menerapkan strategi yang sama untuk mengalahkan pasangan Ahok-Djarot.

Dia menyatakan  bahwa  kemenangan  Partai FIS  pada pemilu di Al-Jazair karena memanfaatkan dan  menjadikan masjid  yang mestinya untuk beribadah tetapi juga digunakan sebagai alat  propaganda politik.

Eep dalam videonya tersebut menyatakan bahwa Partai FIS mengunakan jaringan masjid seperti khotib, ulama, ustad yang mengisi kegiatan di masjid , untuk ikut berpolitik, tidak hanya menyerukan ketakwaan tetapi juga seruan politik. Seruan politik dilakukan secara massif, terus menerus  sampai hari pencoblosan.

Intinya, dengan inspirasi kemenangan Partai FIS mengunakan masjid sebagai alat politik, konsultan Anies –Sandiaga tersebut menerapkan strategi yang sama.

Tindakan politik kotor yang menggunakan isu SARA dan tempat ibadah sebagai tempat untuk berkampanye, mungkin dilakukan karena dirinya merasa tidak percaya diri dalam menghadapi Ahok di Pilkada DKI. Sehingga harus menggunakan cara politik yang kotor agar dapat menurunkan elektabilitas Ahok.

Eep yang dulu pernah menjadi konsultan politik dan memenangkan Jokowi-Ahok pada 2012 dan Deddy Mizwar tersebut, ingin agar prestasinya sebagai konsultan politik semakin cemerlang dengan kemenangan di Pilgub DKI 2017.

Namun, CEO PolMark Indonesia  dan Suami dari Sandrina Malakiano ini mengetahui kapasitas Anies-Sandi tidak cukup  memadai untuk menjadi penantang Ahok-Djarot, karena jika bicara program, Ahok-Djarot sudah terbukti dan  bermanfaat bagi warga jakarta, sehingga dianggap mampu merubah Jakarta menjadi lebih baik dan maju.

Oleh karena itulah, Eep merasa harus mengunakan isu SARA dan tempat ibadah sebagai tempat propaganda politik untuk melawan Ahok.

Sebagai seorang pakar politik yang sudah malang melintang menjadi konsultan politik, Eep tahu betul bahwa mengunakan  isu Sara  itu tidak fair dan  menciderai demokrasi.

Namun, untuk kepentingan pribadinya dan ambisi untuk mencatat kemenangan demi kemenangan orang-orang yang mengunakan jasanya, ia telah membuat demokrasi kehilangan akal sehatnya.

Previous Anies ternyata emosional melebihi Ahok, aslinya baru ketahuan saat Debat di Mata Najwa
Next Eep menyalahi Aturan karena menggunakan Masjid sebagai Sarana mobilisasi pemenangan pilkada

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *