Tokoh masyarakat kecamatan Lamaknen Selatan, Belu Atambua serahkan 6 pucuk senpi ke TNI dan Polri


Jakarta, BuletinInfo – Sebanyak 6 pucuk senjata api (senpi) diserahkan tokoh masyarakat Kecamatan Lamaknen Selatan, Belu, Atambua, NTT kepada pimpinan TNI-Polri setempat. Hal itu terjadi di tengah kegiatan bakti sosial kesehatan yang diselenggarakan aparat perbatasan dan dihadiri Kapolres Belu AKBP Yandri Irsan dan Komandan Satgas Pengamanan Perbatasan Sektor Timur RI-Timor Leste, Letkol Elvino.

Senpi tersebut berjenis laras panjang dan selama ini disimpan di rumah tokoh masyarakat bernama Vitalis Luan (62). Salah satu tokoh, Vincensius Loe (58), mengatakan inisiatif menyerahkan senpi muncul secara spontan saat melihat dua pimpinan aparat tersebut.

“Beberapa hari lalu, keduanya (tokoh yang simpan senjata) menyampaikan kepada saya ada kegiatan bakti sosial, saya bilang ini momen yang penting untuk kita menyerahkan senjata. Kebetulan dua komandannya ada, jadi kita serahkan sekarang,” kata Vincensius kepada wartawan di Lamaknen Selatan, Belu, Atambua, Rabu (23/8/2017).

Vincensius menjelaskan senjata itu disimpan warga karena ditemukan tergeletak di dalam gua sekitar Lamaknen. Dia menduga senjata itu berasal dari sisa gencatan senjata di masa penjajahan bangsa Portugis atau Belanda.

“Ada enam pucuk. Jenisnya semacam rakitan, peninggalan dari zaman, kemungkinan, Portugis atau Belanda. Senjata kuno,” ujar Vincensius.

Vincensius menerangkan penyerahan senjata kuno ini merupakan simpati masyarakat kepada TNI-Polri, yang dinilai peduli terhadap masyarakat perbatasan. Vincensius juga tidak ingin penyimpanan senjata di rumah tokoh masyarakat nantinya dicurigai sebagai tindak kriminal oleh aparat.

“Penyerahan senjata kuno atau rakitan ini adalah suatu bentuk kepedulian masyarakat di perbatasan ini. Kesadaran ini mereka sampaikan ke saya sebagai tokoh masyarakat. Saya bilang, ‘Wah kalo anggota ada, sebaiknya kita memberikan kepada aparatur negara,” terang Vincensius.

“Kami memang agak sedikit takut, dikira kami dapat ancaman, ternyata tidak, ternyata hal ini disambut dengan positif,” sambung Vincensiun

Vincensius mengatakan tidak ada peluru tajam yang ditemukan pada keenam senjata tersebut karena bentuk peluru pada zaman penjajahan berupa batu.

“Dengan berbagai masalah, di antaranya teroris dan lain-lain, jangan sampai kita juga adalah bagian dari itu, kalau kita menyimpannya,” tutur dia.

Kapolres Belu, AKBP Yandri Irsan, mengatakan keenam senpi diamankan sementara oleh aparat TNI di perbatasan setempat. Rencananya senpi-senpi itu akan dibagi dua dengan TNI. Sisanya, 3 senpi, yang dikuasai Polri akan disimpan di gudang senjata Polres Belu.

“Sementara masih diamankan di lokasi oleh TNI. Rencananya kami bagi 3 (senpi) untuk TNI dan 3 lagi untuk Polres. Yang kami pegang akan kami simpan di gudang senjata kami dan kami laporkan ke Polda NTT,” ucap Yandri

(aud/rvk)

Previous KPK tangkap Dirjen Hubla dalam OTT
Next Untuk menjawab tantangan masa kini, Hidayat Nur Wahid ajak generasi muda mengerti tentang keislaman dan keindonesiaan