Tolak aksi 299 yang menunggangi Sholat Jumat


Jakarta, BuletinInfo – Alumnus demonstran 7 juta umat kembali merencanakan aksi. Melalui media sosial, pengurus alumni menyerukan ajakan untuk menghadiri acara yang akan digelar pada hari Jum’at (29/09/17) pekan ini. Seperti biasanya, mereka selalu mengemasnya dalam sebuah tema yang menyertakan angka tidak cantik. Aksi kali ini dinamai dengan Aksi Damai 299. Entah apa alasan mereka selalu menggunakan angka-angka dalam setiap aksi demonya. Mungkinkah karena aksi mereka memang berdasarkan angka yang masuk ke rekening atau amplop mereka? Eh, ma’ap keceplosan!

Dalam undangan yang kini telah diunggah oleh banyak akun tuyul mereka ini tertera beberapa hal yang akan menjadi tuntutan mereka. Yang pertama, menolak kebangkitan neo PKI. Saya masih belum mengerti, masih saja mereka berbicara soal PKI yang bangkit. Padahal kita semua (orang yang waras/tidak “kakean micin”) tahu persis tidak ada apapun yang bisa dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa PKI bangkit. PKI has go to hell! Saya sudah pernah membahas mengenai hal itu di sini.

Sudahlah, siapapun yang mengatakan PKI kembali bangkit adalah orang yang kurang piknik. Mereka hanya orang yang menginginkan terjadi chaos di negeri ini. Toh mereka tak bisa membuktikan apapun atas apa yang mereka propagandakan. Kecuali hanya bisa membakar bendera PKI yang mereka buat sendiri. Kalau mereka teriak PKI tapi mereka juga yang memiliki benderanya, lantas siapa yang lebih mirip PKI? Embuhlah sak karepmu mblo!

Kedua, ganyang pelindung PKI! Ganyang itu kalau di daerah saya adalah makan lauk tanpa mau makan nasi sama sayurnya. Dan biasanya nenek saya akan marah besar kalau cucunya mengganyang lauk. Meskipun keluarga kakek dan nenek saya merupakan salah satu keluarga yang oleh orang kampung kami dipandang sebagai keluarga yang cukup berada di masanya, namun nenek saya termasuk orang yang sangat perhitungan dalam hal mengatur ekonomi termasuk dalam hal anggaran untuk biaya makan.

Nenek saya sering bilang : “yen mangan lawuh ki karo sego ojo diganyang, tur yo ojo akeh-akeh ben awet!” (kalau anda bukan orang Jawa atau tak mengerti artinya silahkan googling atau tanya sama orang Jawa ya hehe…) Nah ini para maniak angka main ganyang aja, untung nenek saya sudah berada di alam ketenanganNya. Coba beliau masih ada, saya yakin para demonstran tidak jelas ini pasti akan dibubarkan dan dimaki habis-habisan oleh nenek saya. Bahkan bisa-bisa mereka ditampar satu persatu sampai jonru tuh. Eh jontor maksud saya. Haha.

Saya mengerti siapa yang mereka maksud pelindung PKI, yaitu Pemerintah. Dalam hal ini lebih tepatnya Presiden Jokowi, karena selama ini mereka selalu menuduh bahwa Presiden Jokowi adalah keturunan PKI. Maka siapa lagi yang mereka tuduh melindungi PKI kalau bukan orang yang juga mereka tuduh sebagai keturunan PKI? Memang benar bahwa pemikiran yang salah akan melahirkan tindakan yang salah pula. Seperti pasukan bani angka ini. Mereka berhalusinasi bahwa PKI telah bangkit, ini jelas sebuah pikiran yang tidak benar.

Berpikir adanya kebangkitan PKI saja sudah tidak dibenarkan, apalagi berpikir dan menuduh Presiden melindungi PKI jelaslah lebih tidak benar lagi. Karena pemikiran yang sudah salah, maka salah pula lah tindakan mereka dengan propaganda ganyang pelindung PKI.

Sebenarnya sangat mudah dibaca, tujuan mereka sebenarnya adalah melengserkan Presiden Jokowi. Mereka membuat fatamorgana dengan mengatakan PKI bangkit dan ada yang melindungi. Padahal sebenarnya yang ingin mereka katakan adalah Jokowi harus lengser. Namun karena mereka tak bisa menemukan hal yang masuk akal untuk dijadikan sebagai alasan menjatuhkan Presiden Jokowi, maka dibuatlah fatamorgana tentang PKI ini.

Yang ketiga, tolak Perppu No.2 legal intimidasi ormas Islam. Ini lagi, masih saja menu yang sama. Mengatakan Perppu ini sebagai alat intimidasi umat Islam. Saya rasa mereka ini memang umat yang paling merasa Islam, paling merasa benar. Apa mereka pikir saya dan banyak orang di luar kelompok mereka bukan Islam? Gile loe ndro, kami juga Islam keleus. Toh kami fine-fine saja, tidak merasa terintimidasi. Bahkan sangat mendukung Perppu ini. Tidak percaya? Mau lihat KTP dan cara ibadah kami? Jangan mentang-mentang selalu pakai gamis dan meneriakkan takbir di jalanan lantas merasa paling Islam! Ingat, Abu Jahal juga pakai gamis. Catat itu Ngger!

Dengan menolak Perppu ini sebenarnya mereka sedang menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya. Mengapa? Karena Perppu No.2 Tahun 2017 memuat peraturan yang melarang ormas dan penyebaran paham yang bertentangan dengan Pancasila, termasuk PKI dan radikalisme. Kalau mereka menolak Perppu ini, berarti mereka juga menolak pemberantasan radikalisme dan komunisme. Yang juga berarti mereka ingin melindungi radikalisme dan komunisme. Analogi sederhananya begini, seperti larangan nenek saya di atas. Larangan tersebut berlaku bagi cucu yang mengganyang lauk. Jadi hanya cucu yang gemar mengganyang lauk lah yang menolak larangan nenek.

Sehingga jika bani angka menolak Perppu No.2, bisa dikatakan mereka ini adalah golongan yang memang memiliki atau sedang menyebarkan paham seperti yang dilarang dalam Perppu tersebut. Golongan yang manakah mereka? Silahkan bertanya langsung kepada mereka! Lagi pula mereka ini semakin terlihat logika tidak nyambungnya. Teriak tolak kebangkitan PKI tapi dalam waktu yang sama juga menolak Peraturan yang melarang kebangkitan PKI. JangkrikBos! Hahaha.

Kesimpulannya kita harus memaklumi mereka, wis lah sing waras ngalah! Tapi ya jangan mau kalah! Kita doakan saja semoga mereka segera kembali ke jalan yang aspal. Agar pikiran mereka bisa jernih, tidak koplak karena sering terhentak di jeglongan. Yang harus diwaspadai adalah tujuan utama mereka, berusaha melengserkan Presiden. Kita harus mencegah hal ini entah bagaimana caranya, Presiden Jokowi tak boleh lengser. Kita juga harus berpartisipasi dalam menduaperiodeken Pak Jokowi demi kejayaan bangsa Indonesia.

Jika aksi yang direncanakan ini jadi terlaksana, semoga bisa berjalan dan berakhir dengan damai sesuai judulnya. Kita dukung dan do’akan Pak Jokowi bersama segenap jajaran Pemerintahan agar Allah senantiasa Melindungi serta memberikan PetunjuknNya. Jangan lupa, do’akan juga nenek saya yang telah menginspirasi kami para cucunya yang sangat beliau sayangi. Ma’afin Baim Nek, Baim terpaksa membawa-bawa pesan Nenek karena ulah bani angka yang selalu minta ditampar! Semoga Nenek tenang di alam peristirahatan Nenek, Aamin…
Terima kasih, salam PBNU!

Previous Jokowi: Tidak ada ruang untuk Komunisme di Indonesia, Kita Gebuk!!!
Next Wakil Ketua MPR Mahyudin: Korupsi, Narkoba dan Radikalisme harus mahasiswa perangi karena menjadi masalah bangsa Indonesia