Ungkap Kasus Pembunuhan Secara Cepat, Kepolisian Bekasi Cegah Bentrok FBR Vs Ambon


Selasa (14/3),  seorang anggota FBR

Sofiyudin (41) tewas setelah dipukul seorang pemuda kelompok suku tertentu di Kampung Rawa Bugel, Kelurahan Harapan Jaya, Bekasi Utara, Kota Bekasi.

Kejadian tersebut sempat membuat terjadinya bentrokan antara kelompok FBR dan kelompok Ambon, karena pihak FBR menuduh kelompok Ambonlah yang bertanggung-jawab atas kematian anggotanya.

Untungnya kerja cepat kepolisian berhasil menangkap pelaku dan mencegah bentrokan semakin meluas.

Tim Resmob Metro Polres Metro Bekasi berhasil menangkap pelaku berinisial DH alias Dedi (34) bukan berasal dari kelompok Ambon.
“Alhamdulillah kasus ini selesai dan pelaku baru bisa ditangkap delapan jam pasca kejadian,” ujar Kombes Hero Bachtiar, Kapolresta Bekasi, di Mapolresta Bekasi, Selasa(14/3).
DH melakukan penganiayaan pada Selasa dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB. Pelaku saat itu tengah nongkrong bersama saksi Carles, Cosmas, Zulfan, dan Arsyad dalam posisi duduk di bangku panjang, di Pasar Seroja. Diketahui pelaku DH bukan dari kelompok Ambon Kei seperti yang diduga sebelumnya.
“Pelaku melakukan penganiayaan kepada korban dengan memukul dibagikan tengkuk sebanyak satu kali hingga tersungkur,” ujar Hero.
“Modus dari pelaku karena dendam akibat sering diajak berkelahi dengan korban. DH dijatuhi hukuman selama 15 tahun setelah menerima pasal tindak pidana 338 atau 351 ayat 3 KUHP tindak pidana atas pembunuhan ,” tutup Hero.

Sebelumnya, beberapa anggota FBR sempat berkumpul di beberapa titik. Mereka kemudian mendatangi Mapolresta Bekasi untuk mengklarifikasi.

Pertikaian tersebutpin teredam ketika akhirnya didapatkan informasi bahwa pelaku penganiaya anggota FBR bukan berasal dari kelompok Ambon.

Panglima FBR se-Jabotabek, Syahrul Gozali mengucapkan terima kasih ke polisi yang telah mengungkap kasus ini dengan cepat, sehingga tidak berbuntut keributan antar kelompok.
“Ini telah terjadi miskomunikasi, mengenai kejadian sejak tadi pagi. Ternyata pelaku bukan berasal dari kawan-kawan kita dari Key, tapi dari suku lain, bukan suku Ambon, melainkan suku Padang,” tutur Syahrul.

Akhirnya perwakilan kedua kelompok, FBR dan Ambon sepakat untuk tidak melakukan konfrontasi karena masalah penganiayaan sudah ditangani pihak kepolisian.

Kecepatan polisi dalam menangani kasus ini merupakan kunci dari berhasilnya diredam pertikaian antar dua kelompok ini.

Karena kedua kelompok ini sebelumnya pernah terlibat beberapa kali bentrokan. Hal inilah yang berusaha untuk dicegah oleh pihak kepolisian.

Kejadian ini juga mengajarkan agar kita tidak gampang untuk terprovokasi dan harus melakukan konfirmasi terhadap berita yang didapatkan.

Karena miss komunikasi seperti ini dapat berakibat fatal dan bahkan dapat menimbulkan korban jiwa.

Previous Dunia Internasional Apresiasi Indonesia Sebagai Negara Sukses Dalam Tangani Terorisme
Next Korea Selatan sebagai Mitra Penting Investasi Indonesia