Walikota Bogor Bima Arya dikecam masyarakat Bogor karena memperbolehkan HTI di Bogor


Bogor, BuletinInfo – Sejumlah elemen organisasi kemasyarakat mengecam kehadiran Wali Kota Bogor dalam acara peresmian Kantor Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Mereka menilai HTI merupakan organisasi massa berideologi khilafah (Pemerintah Negara Islam) atau anti-Pancasila.

Kecaman ini disampaikan mayoritas organisasi sayap Nahdlatul Ulama dan elemen masyarakat Kota Bogor yang tergabung dalam gerakan rakyat untuk Pancasila. Beberapa elemen masyarakat yang mengecam di antaranya, Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Banser, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Ketua GP Ansor Kota Bogor Rachmat Imron Hidayat saat konferensi pers Gerakan Rakyat untuk Pancasila mengatakan, kehadiran Bima yang meresmikan kantor HTI berarti mendukung gerakan organisasi massa tersebut yang konsisten memperjuangkan sistem pemerintahan khilafah. Menurut Rachmat, sudah jelas sistem khilafah yang dikampanyekan organisasi HTI itu tidak mengakui ideologi Pancasila dan bertolak belakang dengan konsepsi NKRI yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan.

Kehadiran Wali Kota Bogor dapat disimpulkan mengakomodasi dan membiarkan gerakan HTI. “Bagi kami, tindakan Wali Kota Bogor melanggar konstitusi dan sumpah jabatan,” kata Rachmat.
Bima didesak mencabut izin kantor HTI dan meminta maaf secara terbuka melalui media massa. Jika tidak dipenuhi dalam seminggu, GP Ansor akan meminta DPRD Kota Bogor memanggil Bima dan menggunakan hak angket serta interpelasi. GP Ansor juga menyiapkan gugatan perdata dan pidana terhadap Bima.

“Melanggar konstitusi dan sumpah jabatan bagi kami adalah kejahatan atau tindak pidana,” kata Rachmat.

Wali Kota Bogor Bima Arya dalam keterangan tertulis yang disebarkan melalui media sosial dan layanan aplikasi pesan singkat seluler beralasan kedatangan dan meresmikan kantor HTI menyadari kapasitasnya sebagai pemimpin harus mengayomi dan merawat silaturahim meskipun perbedaan keyakinan, agama, cara pandang, dan politik.

Bima mengklaim dalam pidato di kantor HTI itu jelas berbeda tajam dengan manifesto organisasi tersebut. “Bagi saya, Bima Arya, NKRI, Pancasila sudah final, ini harga mati dan pendirian saya soal ini tidak akan berubah sampai kapan pun. Saya juga tidak setuju dengan kelompok-kelompok yang mencoba-coba memecah NKRI, mengganti Pancasila, sampai kapan pun,” katanya.

Previous Majelis Hakim Akhirnya Jatuhi Hukuman 15 Bulan Kepada Sang Penghina Presiden Jokowi
Next Wakapolri: Pentingnya WNI dari Suriah di rehabilitasi, kembalikan Psikis dan Ideologi yang sempat dipengaruhi ISIS